SUMENEP, (TrendiKabar.com) — Ada doa yang tak pernah putus. Ada cinta yang tak lekang oleh waktu. Dan ada kebaikan yang terus dilakukan, seolah menjadi cara untuk tetap mengenang mereka yang telah lebih dahulu menghadap Sang Khalik.
Nuansa itu terasa dalam perjalanan H. Ali Zainal Abidin, atau yang akrab disapa Bang Ali, Founder Bashra Bani Insan Peduli (BIP), pada Jum’at (2/10/2026).
Usai menunaikan salat Jum’at dan berbagi dalam kegiatan Jum’at Berkah di Kampung Arab, Pangarangan, Sumenep, Bang Ali bersama keluarga dan para relawan Bani Insan Peduli melanjutkan langkah menuju Pemakaman Jeruk Purut.
Di tempat yang sunyi itu, mereka berziarah ke makam dua sosok yang memiliki tempat istimewa dalam perjalanan hidup Bang Ali, yakni Ibunda Ainun Bani dan Abi Umar Syabibi.
Suasana khidmat menyelimuti pemakaman. Tahlil dan doa bersama dipanjatkan. Tahlil dipimpin Ustaz Said Bani dan diikuti keluarga serta para relawan.
Bang Ali mengaku bersyukur karena masyarakat turut hadir dan menyertai keluarganya dalam mendoakan kedua sosok yang telah lebih dahulu meninggalkan dunia.
“Alhamdulillah, masyarakat ikut menyertai kami mendoakan Ibunda sama Abi kami di sini. Mudah-mudahan doa yang antum panjatkan di sini diterima Allah SWT,” ujar Bang Ali.
Di hadapan pusara, kenangan tentang kasih sayang, jasa, dan perjuangan dua sosok yang telah lebih dahulu meninggalkan dunia seakan kembali hadir.
Bagi mereka yang ditinggalkan, makam bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir. Ia menjadi ruang untuk mengingat, mendoakan, sekaligus menyadari bahwa waktu terus berjalan, sementara kasih sayang kepada orang yang telah tiada tetap tinggal di hati.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits sahih riwayat Imam Muslim, bahwa ketika manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya. (HR. Muslim No. 1631).
Hadits tersebut menjadi pengingat bahwa doa bagi orang yang telah meninggal merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim.
Usai berziarah, Bang Ali kembali melanjutkan langkah dengan berbagi sedekah kepada masyarakat di sekitar Pemakaman Jeruk Purut. Ribuan masyarakat tampak memadati lokasi, termasuk para tukang becak yang turut menerima sedekah.
Jum’at itu pun berjalan sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam.
Setelah berbagi kepada mereka yang masih menjalani kehidupan, Bang Ali menundukkan kepala di hadapan pusara orang-orang tercinta, mengirimkan doa dengan penuh harap.
Dari tangan yang berbagi, lahir kebahagiaan bagi sesama. Dari hati yang mengenang, terpanjat doa bagi mereka yang telah tiada.
Sebuah Jum’at yang mungkin terlihat sederhana, namun menyimpan pesan tentang sedekah, doa, keluarga, dan cinta bahwa kepergian seseorang tidak selalu menghapus jejak kasihnya.
Sebab sebagian cinta tetap hidup, bukan dalam kata-kata, melainkan dalam doa dan kebaikan yang terus dilakukan.
Penulis : Suri Hariady
Editor : (Red)

























