Diduga Jadi Korban Penipuan Kredit di Bank Mandiri Taspen, Pegawai Kebun Sekolah di Sumenep Hanya Terima Rp38 Juta dari Pinjaman Rp270 Juta

- Publisher

Jumat, 24 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Tampak depan kantor Bank Mandiri Taspen KCP Sumenep, tempat nasabah melaporkan dugaan ketidaksesuaian pencairan kredit. (Foto: TrendiKabar.com)

Foto: Tampak depan kantor Bank Mandiri Taspen KCP Sumenep, tempat nasabah melaporkan dugaan ketidaksesuaian pencairan kredit. (Foto: TrendiKabar.com)

SUMENEP, (TrendiKabar.com) — Dugaan praktik tidak transparan dalam penyaluran kredit kembali mencuat di Kabupaten Sumenep. Seorang pegawai kebun sekolah, Juhari, yang bekerja di SDN II Legung Barat, Kecamatan Batang-Batang, mengaku hanya menerima Rp38 juta dari total pinjaman sebesar Rp270 juta di Bank Mandiri Taspen.

Padahal, seluruh proses administrasi disebut telah diselesaikan sesuai prosedur oleh pihak bank yang datang langsung ke rumah korban.

Keterangan yang diperoleh TrendiKabar.com menyebutkan, awalnya Juhari dan istrinya didatangi oleh seorang petugas berinisial S, yang mengaku sebagai perwakilan Bank Mandiri Taspen. Petugas tersebut datang sebanyak dua kali dan menawarkan program pinjaman bagi calon pensiunan dengan janji bahwa cicilan baru akan berjalan setelah masa pensiun tiba.

“Awalnya kami menolak karena takut tidak mampu membayar cicilan. Tapi petugas itu bilang nanti bayarnya setelah pensiun. Karena diyakinkan begitu, kami akhirnya setuju,” ujar istri Juhari saat ditemui wartawan di Batang-Batang, Kamis (18/10/2025).

Setelah proses administrasi berjalan, permohonan pinjaman disetujui dengan plafon Rp270 juta. Namun, uang yang diterima korban hanya Rp38 juta.

“Kami kaget, kenapa uangnya tidak sesuai. Tidak pernah ada penjelasan resmi dari pihak bank. Yang kami tahu, hanya Rp38 juta yang masuk ke tangan kami,” jelasnya.

Juhari mengaku telah menandatangani sejumlah dokumen pencairan, tetapi tidak pernah menerima salinan perjanjian kredit dari pihak bank.

“Kami hanya diberi buku tabungan yang menunjukkan pinjaman Rp270 juta, tapi uang yang kami terima cuma Rp38 juta,” ujarnya.

Menurut istrinya, mereka juga tidak pernah mendapat penjelasan rinci mengenai potongan, mekanisme pemblokiran, atau alasan dana tidak dapat dicairkan penuh.

“Kami orang awam, hanya percaya pada petugas. Kalau tahu begini, tidak akan kami ambil pinjaman itu. Kami merasa dibodohi,” katanya dengan nada kecewa.

Pada 19 Oktober 2025, wartawan TrendiKabar.com mengikuti langsung kedatangan Juhari dan istrinya ke Bank Mandiri Taspen Cabang Sumenep untuk meminta kejelasan. Dalam pertemuan tersebut, pihak bank mengakui bahwa dana pinjaman korban diblokir untuk menutup angsuran. Namun, rincian transaksi dan dasar hukum pemblokiran baru diberikan setelah tim media hadir dan meminta penjelasan resmi.

“Yang mengurus semua itu petugas S. Kami tidak tahu apa-apa,” tambah istri korban.

Hingga berita ini diterbitkan, manajemen Bank Mandiri Taspen Cabang Sumenep maupun kantor wilayah terkait belum memberikan keterangan resmi secara tertulis.

Kasus ini mengindikasikan adanya potensi penyalahgunaan wewenang dan pelanggaran prinsip transparansi oleh oknum perbankan. Praktik semacam ini jelas bertentangan dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 1/POJK.07/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan, yang menegaskan bahwa setiap nasabah berhak memperoleh informasi yang jelas, jujur, dan tidak menyesatkan.

Peristiwa ini menjadi cermin lemahnya perlindungan terhadap pegawai negeri menjelang masa pensiun, serta menegaskan pentingnya pengawasan publik dan transparansi lembaga keuangan di daerah.

TrendiKabar.com akan terus menelusuri perkembangan kasus ini, termasuk klarifikasi resmi dari Bank Mandiri Taspen, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bank Indonesia (BI).

 

Penulis : Suri Hariady

Editor : (Red)

Berita Terkait

Desa Poja dalam Pusaran Empat Persoalan, Krisis Tata Kelola Kian Terbuka
Badur Itu dari Kata Badrun, Artinya Bulan Purnama,” Pesan Mendalam Bang Ali di Peresmian Musolla AINUN BANI
Dafa Adi Wijaya Putra Bersinar di Madura Pop Talent 2026, Talenta Muda Sumenep yang Diyakini Siap Menuju D’Academy Indosiar
Dugaan Pungutan Berlebih Penyeberangan Kalianget–Talango Diusut, Sejumlah Operator Dipanggil Polisi
Modus Pinjam Sebentar Motor Raib, Mahasiswa Sumenep Laporkan Dugaan Penipuan Rp13 Juta ke Polisi
Nama Legislator Muncul di Sidang BSPS 2024, Siapa Aktor Besar di Balik Korupsi Rp26,8 Miliar?
Satlantas Polres Sumenep Urai Kemacetan Antrean BBM di Sejumlah SPBU, Warga Diimbau Tertib
Khidmat dan Meriah, Wisuda Santri Ponpes AT-TA’AWUN Sumenep Jadi Momentum Cetak Generasi Berakhlak

Berita Terkait

Kamis, 2 Juli 2026 - 18:08 WIB

Desa Poja dalam Pusaran Empat Persoalan, Krisis Tata Kelola Kian Terbuka

Senin, 29 Juni 2026 - 18:11 WIB

Badur Itu dari Kata Badrun, Artinya Bulan Purnama,” Pesan Mendalam Bang Ali di Peresmian Musolla AINUN BANI

Minggu, 28 Juni 2026 - 02:02 WIB

Dafa Adi Wijaya Putra Bersinar di Madura Pop Talent 2026, Talenta Muda Sumenep yang Diyakini Siap Menuju D’Academy Indosiar

Jumat, 26 Juni 2026 - 02:11 WIB

Dugaan Pungutan Berlebih Penyeberangan Kalianget–Talango Diusut, Sejumlah Operator Dipanggil Polisi

Jumat, 26 Juni 2026 - 01:41 WIB

Modus Pinjam Sebentar Motor Raib, Mahasiswa Sumenep Laporkan Dugaan Penipuan Rp13 Juta ke Polisi

Berita Terbaru

Foto: Kepala Desa Poja, Yuli Rizkianto, kini menjadi sorotan atas sejumlah persoalan di pemerintahan desa.

Hukum & Pemerintahan

Desa Poja dalam Pusaran Empat Persoalan, Krisis Tata Kelola Kian Terbuka

Kamis, 2 Jul 2026 - 18:08 WIB