PAMEKASAN, (TrendiKabar.com) – Tidak semua orang tega melihat luka.
Sebagian memilih menutup mata.
Sebagian lagi… terbiasa mengabaikan.
Di sudut-sudut kehidupan, ada anak-anak yang tumbuh tanpa cukup pelukan.
Ada yang belajar kuat… bukan karena ingin, tapi karena keadaan memaksa.
Mereka tidak meminta dikasihani.
Mereka hanya ingin… dianggap ada.
Dan di saat banyak orang memilih berjalan menjauh, Ali Zaenal Abidin justru memilih mendekat.
Ia tidak datang membawa kata-kata besar.
Ia datang membawa kehadiran.
Pada 26 April 2026, melalui Bani Insan Peduli (BIP), ia akan memeluk 2.000 anak disabilitas dan anak berkebutuhan khusus (ABK) dalam satu gerakan kemanusiaan di Pamekasan.
Namun ini bukan awal.
Jauh sebelum itu, langkahnya telah menembus batas-batas yang sering dihindari
menjangkau anak yatim, kaum dhuafa, lansia sebatangkara, hingga masyarakat kecil yang hidup dalam diam dan keterbatasan.
Faktanya, Bani Insan Peduli bukan hanya sekali bergerak.
Mereka telah berulang kali merangkul ribuan anak yatim dalam kegiatan besar bahkan hingga 3.000 anak dalam satu momentum yang diakui secara nasional.
Mereka juga turun langsung ke jalanmenyapa tukang becak, petugas kebersihan, hingga pengemudi ojek online, memastikan bantuan benar-benar sampai ke tangan yang membutuhkan.
Bahkan, gerakan mereka tidak berhenti di satu titik menjangkau desa-desa, lansia dhuafa, penyandang disabilitas, hingga masyarakat kecil di berbagai daerah, dengan bantuan yang terus berjalan hampir setiap waktu.
Ini bukan kegiatan sesaat.
Ini adalah jalan hidup.
Ali Zaenal Abidin memahami satu hal yang sering dilupakan banyak orang
bahwa hidup bukan tentang seberapa tinggi kita berdiri,
tetapi seberapa banyak kita menunduk… untuk mengangkat orang lain.
Ia kerap menyampaikan, hidup ini sejatinya untuk menebarkan manfaat. Prinsip “Khairunnas anfa’uhum linnas” bukan sekadar ucapan tetapi napas dalam setiap langkahnya.
Dan tanpa banyak disadari, jalan yang ia tempuh adalah jalan yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW
yang tidak hanya mengajarkan kasih sayang,
tetapi turun langsung memeluk yang lemah,
menyapa yang terlupakan,
dan menguatkan yang rapuh.
Ali Zaenal Abidin tidak mengklaim diri sebagai teladan.
Ia hanya memilih… untuk berbuat.
Di balik santunan 2.000 anak disabilitas itu, ada sesuatu yang tidak terlihat
Ada hati yang lama sunyi… akhirnya merasa didengar.
Ada jiwa yang hampir putus… kembali menemukan harapan.
Ada anak-anak yang mungkin untuk pertama kalinya merasa
bahwa mereka tidak sendiri.
Malam harinya, kebersamaan berlanjut dalam kesederhanaan.
Namun mungkin, di situlah letak kemewahan yang sesungguhnya
ketika manusia saling menguatkan… tanpa syarat.
Dan mungkin… kita perlu berhenti sejenak.
Bertanya dengan jujur
Berapa banyak dari kita yang hanya melihat…
tanpa benar-benar peduli?
Sementara di tempat lain, ada seseorang yang memilih tetap berjalan
di jalan yang sepi,
di jalan yang sunyi,
di jalan yang tidak semua orang sanggup lalui.
Ia tidak sekadar menginspirasi.
Karena inspirasi bisa dilupakan.
Ia adalah tindakan.
Ia adalah kehadiran.
Ia adalah bukti… bahwa kebaikan masih hidup.
Dan di hari itu di Pamekasan
bukan hanya 2.000 anak yang menerima santunan
Tetapi 2.000 hati yang dihidupkan kembali.
Dan mungkin…
satu hati lagi yang tersentuh
adalah hati kita,
yang akhirnya tersadar…
bahwa menjadi manusia,
seharusnya saling menjaga.
Editor : (Red)



























