Badur Itu dari Kata Badrun, Artinya Bulan Purnama,” Pesan Mendalam Bang Ali di Peresmian Musolla AINUN BANI

- Publisher

Senin, 29 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Founder BIP, H. Ali Zainal Abidin, berbaur dengan warga. Tampak Kades Badur, Atnawi (berkopiah hitam), turut mendampingi.

Foto: Founder BIP, H. Ali Zainal Abidin, berbaur dengan warga. Tampak Kades Badur, Atnawi (berkopiah hitam), turut mendampingi.

SUMENEP, (TrendiKabar.com) — Tidak semua bangunan berdiri hanya dari semen, pasir, dan batu bata. Sebagian dibangun dari doa yang tak pernah putus, cinta yang tak pernah padam, serta kerinduan mendalam seorang anak kepada kedua orang tuanya.

Suasana penuh haru itulah yang terasa di Pantai Badur, Kabupaten Sumenep, Minggu (28/6/2026), saat BIP (Bani Insan Peduli) menggelar kegiatan BANI (Bakti Anak Nurani Ibu) Muharram Penuh Berkah, yang dirangkai dengan peresmian Musolla Ainun Bani.

Di tengah debur ombak dan semilir angin pantai, puluhan anak yatim, para janda, dan kaum dhuafa duduk bersila dengan khidmat. Wajah-wajah sederhana itu memancarkan ketulusan. Mereka datang bukan sekadar menerima santunan, melainkan menjadi saksi sebuah kisah besar tentang bakti seorang anak yang tak pernah ingin berhenti berbuat baik untuk kedua orang tuanya.

Hari itu bukan sekadar tentang pembagian beras atau bantuan sosial.

Hari itu adalah tentang cinta yang diabadikan dalam sebuah rumah ibadah.

Tentang bakti yang diwujudkan dalam amal jariyah.

Tentang seorang anak yang ingin memastikan doa untuk orang tuanya terus hidup, bahkan ketika dirinya kelak telah tiada.

Founder BIP, H. Ali Zainal Abidin, yang akrab disapa Bang Ali, membuka sambutannya dengan kalimat ringan namun penuh makna.

“Badur itu saya ambil dari bahasa Arab, Badrun, yang artinya bulan purnama. Jadi kalau kalian ingin melihat bulan purnama, datanglah ke Desa Badur,” ujarnya disambut senyum hadirin.

Suasana yang semula formal perlahan mencair.

Namun di balik candaan itu tersimpan filosofi mendalam: Badur adalah cahaya yang menerangi, memberi harapan, dan menuntun manusia menuju keberkahan.

Bang Ali kemudian menatap Musolla Ainun Bani dengan sorot mata penuh arti.

“Semoga Musolla Ainun Bani ini, yang berdiri di tengah Desa Badur, menjadi keberkahan bagi kita semua.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan perjalanan batin yang panjang.

Ia lalu mengungkap alasan mengapa agenda Bani Insan Peduli kali ini terasa begitu spesial.

“Salah satunya karena ini adalah peresmian musolla ummi saya.”

Suasana mendadak hening.

Para hadirin mulai menyadari bahwa mereka sedang menyaksikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kegiatan sosial. Mereka sedang menyaksikan perjalanan hati seorang anak.

Dalam perjalanan dari Sumenep menuju Badur, Bang Ali mengaku merenung dan menghitung satu per satu bangunan yang telah ia dirikan atas nama kedua orang tuanya.

Hasilnya membuat suasana semakin emosional.

“Saya hitung-hitung, ternyata Musolla Ainun Bani ini adalah titik ke-26 yang saya bangun untuk orang tua saya.”

Angka 26 mungkin terdengar biasa.

Namun bagi Bang Ali, angka itu adalah 26 jejak cinta, 26 bentuk bakti, dan 26 saksi pengabdian seorang anak.

Dan angka itu belum akhir.

Justru baru permulaan.

Dengan penuh keyakinan, Bang Ali mengungkap target besarnya.

“Target minimal saya adalah membangun 100 titik masjid atau musolla. Dan ini baru angka ke-26.”

Pernyataan itu disambut takjub oleh para hadirin.

Namun momen paling menyentuh datang sesaat setelahnya.

Dengan suara yang mulai berat, Bang Ali membacakan hadits Rasulullah SAW:

“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”

Setelah membacakan hadits itu, Bang Bidin terdiam.

Tak ada suara.

Hanya debur ombak Pantai Badur yang terdengar.

Keheningan itu justru membuat setiap kalimat hadits terasa menembus relung hati.

Menurut Bang Ali, hadits tersebut menjadi pengingat paling kuat bahwa suatu hari semua manusia akan pulang.

Jabatan tidak akan ikut masuk ke liang kubur.

Harta tidak akan ikut dibawa.

Kekuasaan akan selesai.

Popularitas akan memudar.

Namun ada satu hal yang tidak pernah mati: amal jariyah.

Bang Ali meyakini, selama Musolla Ainun Bani ini berdiri, selama azan masih berkumandang, selama ada orang bersujud, selama ada anak belajar iqra’, maka selama itu pula pahala akan terus mengalir.

Bukan sehari.

Bukan setahun.

Bisa puluhan tahun.

Bahkan setelah dirinya tiada.

Di titik itu, suaranya mulai bergetar.

“Setidaknya, apa yang saya berbagi kepada antum semua hari ini, pahalanya semoga mengalir buat ummik dan abah saya.”

Kalimat itu membuat banyak mata berkaca-kaca.

Sebab semua orang memahami, tak ada cinta yang lebih tulus daripada cinta seorang anak kepada orang tuanya.

Menjelang akhir sambutan, Bang Ali menatap langsung anak-anak yatim, para janda, dan kaum dhuafa yang hadir.

Tatapannya penuh ketulusan.

Bukan tatapan seseorang yang mencari pujian.

Bukan pula seseorang yang ingin dipandang besar.

Ia hanya menginginkan satu hal: doa.

“Yang paling penting, kehadiran semuanya sudah sangat berarti. Saya cuma menginginkan doa dari antum semua. Tidak ada tujuan lain.”

Sejumlah hadirin menunduk.

Beberapa mengusap air mata.

Suasana berubah menjadi lautan haru.

Usai sambutan, acara dilanjutkan dengan pembagian bantuan sosial berupa beras 10 kilogram dan santunan uang tunai kepada anak yatim, janda, serta kaum dhuafa.

Foto: Founder BIP, H. Ali Zainal Abidin, menyerahkan santunan kepada warga.

Satu per satu mereka maju ke depan.

Ada tangan yang gemetar saat menerima bantuan.

Ada senyum bahagia.

Ada tatapan penuh syukur.

Ada air mata yang jatuh tanpa suara.

Di tengah kerasnya kehidupan, bantuan itu mungkin tampak sederhana.

Namun bagi mereka, itu adalah bentuk kasih sayang yang begitu besar.

Sore itu, Pantai Badur menjadi saksi bahwa yang dibagikan BIP bukan hanya beras.

Bukan hanya uang.

Yang dibagikan adalah cinta.

Yang ditebar adalah harapan.

Yang ditanam adalah amal yang tak akan pernah mati.

Dan mungkin, bertahun-tahun dari sekarang, saat azan berkumandang dari Musolla Ainun Bani, orang-orang akan selalu mengingat satu hal:

Bahwa bangunan itu lahir dari bakti seorang anak yang tak pernah berhenti menghadiahkan kebaikan untuk kedua orang tuanya.

Sebab pada akhirnya, manusia tidak dikenang karena seberapa banyak harta yang dimiliki.

Melainkan karena seberapa besar manfaat yang ditinggalkan.

Muharram di Badur mengajarkan satu kebenaran yang tak terbantahkan:

Kematian memang memutus amal manusia, tetapi sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak saleh mampu membuat seseorang tetap hidup bahkan setelah ia tiada.

Penulis : Suri Hariady/Mat Halil

Editor : (Red)

Berita Terkait

Dafa Adi Wijaya Putra Bersinar di Madura Pop Talent 2026, Talenta Muda Sumenep yang Diyakini Siap Menuju D’Academy Indosiar
Dugaan Pungutan Berlebih Penyeberangan Kalianget–Talango Diusut, Sejumlah Operator Dipanggil Polisi
Modus Pinjam Sebentar Motor Raib, Mahasiswa Sumenep Laporkan Dugaan Penipuan Rp13 Juta ke Polisi
Satlantas Polres Sumenep Urai Kemacetan Antrean BBM di Sejumlah SPBU, Warga Diimbau Tertib
Khidmat dan Meriah, Wisuda Santri Ponpes AT-TA’AWUN Sumenep Jadi Momentum Cetak Generasi Berakhlak
Beradaptasi Dengan Kebutuhan Zaman, RSUD Moh. Anwar Dorong Transformasi Layanan Kesehatan
Tak Hanya Cepat, Pelayanan RSUD Moh. Anwar Sumenep Kini Makin Terintegrasi
Kepercayaan Masyarakat Terus Menguat, RSUD Moh. Anwar Perkuat Layanan Humanis

Berita Terkait

Senin, 29 Juni 2026 - 18:11 WIB

Badur Itu dari Kata Badrun, Artinya Bulan Purnama,” Pesan Mendalam Bang Ali di Peresmian Musolla AINUN BANI

Minggu, 28 Juni 2026 - 02:02 WIB

Dafa Adi Wijaya Putra Bersinar di Madura Pop Talent 2026, Talenta Muda Sumenep yang Diyakini Siap Menuju D’Academy Indosiar

Jumat, 26 Juni 2026 - 02:11 WIB

Dugaan Pungutan Berlebih Penyeberangan Kalianget–Talango Diusut, Sejumlah Operator Dipanggil Polisi

Jumat, 26 Juni 2026 - 01:41 WIB

Modus Pinjam Sebentar Motor Raib, Mahasiswa Sumenep Laporkan Dugaan Penipuan Rp13 Juta ke Polisi

Rabu, 24 Juni 2026 - 11:55 WIB

Khidmat dan Meriah, Wisuda Santri Ponpes AT-TA’AWUN Sumenep Jadi Momentum Cetak Generasi Berakhlak

Berita Terbaru