Oleh: Dafa Irwanto S.
Insan Pers & Pimred TrendiKabar.com
(TrendiKabar.com) – Saya tidak pernah bertemu Pancasila di ruang rapat.
Saya justru lebih sering menemukannya di tempat-tempat yang tidak pernah masuk siaran langsung televisi.
Di sebuah rumah bambu yang hampir roboh, ketika seorang nenek tetap menyuguhkan kopi kepada tamu meski hidupnya sendiri serba kekurangan.
Di sebuah jalan desa yang rusak, ketika warga bergotong royong memperbaikinya tanpa menunggu proyek pemerintah datang.
Di sebuah antrean bantuan sosial, ketika seseorang mempersilakan orang lain yang lebih tua untuk maju lebih dulu.
Sebagai wartawan, saya sering berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Mendengar keluhan, melihat kenyataan, dan sesekali menyaksikan hal-hal kecil yang luput dari perhatian banyak orang.
Dari situlah saya belajar bahwa Pancasila ternyata tidak selalu hidup dalam pidato.
Ia lebih sering hidup dalam tindakan sederhana.
Sayangnya, semakin hari kita semakin pandai mengucapkan Pancasila, tetapi belum tentu semakin rajin mengamalkannya.
Kita mudah berbicara tentang persatuan, tetapi cepat terpecah karena perbedaan pilihan.
Kita lantang berbicara keadilan, tetapi sering diam ketika ketidakadilan menimpa orang yang tidak punya kuasa.
Kita bangga menyebut Indonesia sebagai bangsa yang ramah, tetapi kadang lupa menghormati sesama hanya karena berbeda pendapat.
Sebagai insan pers, saya melihat semua itu hampir setiap hari.
Pers sering dituduh terlalu kritis.
Padahal kritik bukanlah bentuk kebencian.
Justru karena masih peduli, maka kritik disampaikan.
Karena yang paling berbahaya bukan suara yang mengingatkan.
Yang paling berbahaya adalah ketika semua orang memilih diam.
Sebagai wartawan, saya tidak tahu berapa banyak orang yang masih membaca Pancasila setiap hari.
Tetapi saya tahu, Indonesia masih berdiri sampai hari ini karena masih banyak orang yang tanpa sadar mengamalkannya.
Petani yang tetap menanam meski harga hasil panennya tidak menentu.
Guru yang tetap mengajar meski fasilitasnya terbatas.
Relawan yang membantu tanpa berharap dikenal.
Warga yang tetap bergotong royong tanpa menunggu kamera datang.
Mereka mungkin tidak pernah berpidato tentang Pancasila.
Mereka mungkin tidak pernah menjadi pejabat.
Bahkan nama mereka mungkin tidak pernah masuk berita.
Namun justru di tangan orang-orang seperti itulah Indonesia bertahan.
Maka pada Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 ini, mungkin kita tidak perlu terlalu banyak bertanya apakah Pancasila masih ada.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Sudahkah kita menjadi bagian dari orang-orang yang menghidupkannya?
Selamat Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026.
“Karena Pancasila tidak pernah kekurangan orang yang menghafalnya. Yang sering kurang adalah orang yang bersedia menjalankannya.”
Editor : (Red)



























