Oleh: Dafa Irwanto Saputra
Jurnalis dan Pemimpin Redaksi Media TrendiKabar.com
Belakangan ini, saya membaca begitu banyak komentar yang menghujat Bani Insan Peduli (BIP). Ada yang mencibir, ada yang menghina, bahkan ada yang seolah-olah langsung menjatuhkan vonis, seakan seluruh kebaikan yang telah dilakukan selama ini menjadi tidak berarti hanya karena satu polemik yang sedang viral.
Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri.
Apakah semudah itu kita menghakimi seseorang?
Apakah hanya karena satu persoalan yang belum selesai, lalu semua jejak kebaikan harus dihapus begitu saja? Apakah karena satu narasi yang ramai di media sosial, kita merasa sudah mengetahui seluruh kebenaran?
Bukankah Allah SWT telah mengajarkan kepada kita agar tetap berlaku adil, bahkan kepada orang yang sedang tidak kita sukai?
Allah SWT berfirman:
“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)
Ayat ini begitu dalam maknanya. Keadilan bukan sekadar membela atau menyalahkan. Keadilan adalah keberanian untuk mendengar kedua belah pihak sebelum mengambil kesimpulan. Keadilan adalah menahan diri agar tidak mudah terbawa arus opini yang sedang ramai.
Saya mengikuti berbagai pemberitaan yang beredar. Saya juga membaca klarifikasi Bang Ali. Dari situ saya memahami bahwa persoalan ini bukan semata-mata tentang angka Rp2 miliar, melainkan adanya perbedaan pandangan mengenai mekanisme, prosedur, dan SOP pelaksanaan sebuah program.
Kalau memang sejak awal sebuah yayasan memiliki aturan internal bahwa setiap program yang didanai sepenuhnya menggunakan nama BANI sebagai bentuk penghormatan kepada kedua orang tua pendirinya, kemudian aturan itu disampaikan secara terbuka kepada pihak yang bekerja sama, apakah itu otomatis menjadi sesuatu yang salah?
Bukankah setiap lembaga memiliki filosofi, identitas, dan nilai yang mereka pegang selama tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku?
Sebagai orang awam, saya justru melihat persoalan ini perlu disikapi dengan kepala dingin, bukan dengan emosi yang meledak-ledak.
Di tengah derasnya berbagai opini, saya memilih untuk melihat persoalan ini dengan hati yang jernih. Sebab saya percaya, setiap kebaikan yang pernah dilakukan tidak semestinya dihapus begitu saja hanya karena sebuah persoalan yang masih membutuhkan penjelasan dan penyelesaian.
Namun, dari berbagai kesempatan mengikuti kegiatan Bani Insan Peduli (BIP), saya melihat sendiri anak-anak yatim yang tersenyum ketika menerima santunan, rumah-rumah yang mulai berdiri untuk masyarakat yang membutuhkan, warga yang terbantu, dan banyak tangan yang diulurkan kepada mereka yang sedang kesulitan.
Mungkin semua itu memang tidak selalu menjadi berita besar.
Mungkin kamera tidak selalu hadir ketika kebaikan dilakukan.
Dan mungkin algoritma media sosial memang lebih menyukai pertengkaran daripada kepedulian.
Yang akhirnya viral bukanlah air mata bahagia para penerima manfaat, melainkan perdebatan yang memancing emosi banyak orang.
Padahal Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Hadis ini mengajarkan bahwa menghargai setiap kebaikan adalah bagian dari akhlak seorang mukmin. Mengakui adanya manfaat yang telah diberikan seseorang bukan berarti menutup mata terhadap kekurangannya. Sebaliknya, kita diajarkan untuk menempatkan segala sesuatu secara proporsional.
Saya tidak pernah mengatakan bahwa BIP pasti benar dalam segala hal. Tidak ada manusia yang luput dari kekhilafan, dan tidak ada lembaga yang sempurna.
Namun saya juga tidak setuju apabila sebuah lembaga dihakimi habis-habisan tanpa diberi ruang untuk menjelaskan, tanpa menghargai niat baik yang selama ini telah diwujudkan melalui aksi nyata.
Kita semua tentu sepakat bahwa jika ada hal yang memang perlu diluruskan, biarlah diselesaikan melalui aturan, musyawarah, dan mekanisme yang benar. Bukan dengan caci maki, fitnah, atau penghakiman yang lahir dari potongan informasi.
Di era media sosial, jari kita sering lebih cepat daripada hati kita. Kita mudah membagikan informasi sebelum memeriksa kebenarannya. Mudah menulis komentar yang melukai, tetapi lupa bahwa setiap kata akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Allah SWT juga mengingatkan:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa seorang mukmin tidak boleh tergesa-gesa menyimpulkan sesuatu hanya karena sebuah informasi sedang ramai diperbincangkan.
Saya membayangkan, bagaimana jika suatu hari nanti kita sendiri berada di posisi yang sama? Dihakimi sebelum sempat menjelaskan. Dicaci sebelum didengar. Divonis sebelum fakta terungkap.
Tentu kita berharap ada orang yang tetap mau bersikap adil.
Karena itu, saya memilih untuk tidak ikut menambah bara kebencian. Saya memilih percaya bahwa setiap persoalan bisa diselesaikan dengan dialog, kebijaksanaan, dan hati yang lapang.
Bagi saya, kemanusiaan harus selalu lebih besar daripada ego. Persaudaraan harus lebih tinggi daripada perbedaan. Dan niat baik jangan sampai tenggelam hanya karena gelombang kebencian yang sedang ramai.
Saya percaya, sejarah tidak pernah ditulis hanya oleh mereka yang mencaci, tetapi juga oleh mereka yang tetap memilih berbuat baik ketika dihujani prasangka. Sebab cacian bisa menjadi viral dalam hitungan jam, tetapi manfaat yang dirasakan oleh anak yatim, dhuafa, dan masyarakat yang pernah ditolong akan hidup jauh lebih lama di dalam hati mereka.
Bagi saya, sebuah lembaga tidak layak dinilai hanya dari satu peristiwa, tetapi juga dari jejak pengabdiannya. Jika ada kekeliruan, mari diluruskan dengan bijaksana. Namun jika ada kebaikan yang telah nyata dirasakan masyarakat, jangan pula kita menutup mata hanya karena sedang berada di tengah badai opini.
Saya berharap Bani Insan Peduli (BIP) tetap istiqamah menebarkan manfaat, tetap menjadikan kepedulian sebagai jalan pengabdian, dan tetap membuka diri terhadap setiap masukan yang membangun. Sebab pada akhirnya, waktu akan membuktikan siapa yang sekadar ramai berbicara, dan siapa yang benar-benar hadir untuk membantu sesama.
Karena saya meyakini, fitnah mungkin dapat mengguncang nama baik seseorang atau sebuah lembaga untuk sementara waktu, tetapi keikhlasan dalam berbuat baik adalah amal yang tidak akan pernah sia-sia di hadapan Allah SWT.
Pada akhirnya, biarlah waktu, fakta, dan proses yang berbicara. Tugas kita hanyalah menjaga hati agar tetap jernih, menjaga lisan agar tetap santun, dan menjaga pikiran agar tidak mudah menghakimi.
Semoga Allah SWT membimbing kita semua menjadi pribadi yang adil, bijaksana, mencintai kebenaran, serta tidak mudah memvonis sebelum mengetahui keseluruhan cerita.
Wallahu a’lam bishawab.
Editor : (Red)

























