PAMEKASAN, (Trendikabar.com) — Ribuan warga memadati Lapangan Sport Center Garuda, Desa Palengaan Laok, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, Sabtu (12/9/2026). Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW berlangsung meriah. Namun, di balik riuhnya acara, terselip satu pesan sederhana: berbagi tidak harus menunggu memiliki segalanya.
Pesan tersebut disampaikan Founder Bashra Bani Insan Peduli (BIP), Ali Zainal Abidin yang akrab disapa Bang Ali, dalam kegiatan Gebyar Budaya dan Makan Gratis yang digelar selama 12 jam nonstop.
Kegiatan kolaborasi MWCNU Palengaan dan BIP tersebut diisi beragam kegiatan, mulai bazar UMKM, tausiyah, hiburan rakyat, penampilan Bani Entertainment dan Balasyik Entertainment, empat grup musik daul, lima drum band, hingga jamuan makan gratis.
Namun, bagi Bang Ali, kemeriahan tersebut bukanlah tujuan akhir.
Ada pesan sosial yang ingin dibawa lebih jauh: bagaimana sebuah niat baik dapat berubah menjadi gerakan kepedulian dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Berawal dari Niat, Berujung pada Kebersamaan
Bang Ali mengaku sempat memiliki kekhawatiran sebelum kegiatan berlangsung. BIP ingin membuka ruang kolaborasi dengan berbagai kalangan, sehingga muncul pertanyaan apakah niat tersebut dapat diterima dan mendapat tempat di tengah masyarakat.
Kekhawatiran itu kemudian terjawab ketika masyarakat datang, berkumpul dan menikmati kegiatan bersama.
“Kalau niatnya baik, insyaallah semuanya akan baik. Kalau niatnya tidak baik, tidak mungkin pintu-pintu kebaikan terbuka sampai kita bisa berkumpul di sini,” ungkap Bang Ali.
Bagi Bang Ali, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa sebuah gerakan sosial dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana: niat yang baik, kemudian diwujudkan melalui tindakan nyata.
BIP Ingin Menjadi Cahaya
Kepedulian, menurut Bang Ali, tidak semestinya berhenti ketika sebuah acara selesai. Setelah panggung dibongkar dan keramaian berakhir, manfaat diharapkan tetap bisa dirasakan oleh mereka yang membutuhkan.
Salah satu kelompok yang menjadi perhatian adalah anak yatim dan kaum dhuafa.
Mereka mungkin tidak selalu mampu menyuarakan kebutuhan, tetapi bukan berarti kebutuhan mereka tidak ada.
“BIP ingin menjadi cahaya bagi anak yatim dan masyarakat yang membutuhkan,” tutur Bang Ali.
Cahaya tersebut tidak selalu harus hadir dalam bentuk sesuatu yang besar.
Sepiring makanan, misalnya. Bagi sebagian orang mungkin sederhana. Namun bagi seseorang yang sedang membutuhkan, pemberian yang dilakukan dengan ketulusan dapat memiliki arti yang jauh lebih besar.
Ketika Transaksi Menjadi Jalan Berbagi
Semangat berbagi itu kemudian diwujudkan melalui program MBG (Membeli Sama dengan Berbagi) yang diperkenalkan melalui Toko Emas Central Gold 88.
Konsepnya sederhana: aktivitas usaha tidak hanya dipandang sebagai kegiatan ekonomi, tetapi juga diharapkan dapat menjadi salah satu jalan untuk menghadirkan manfaat sosial.
Dengan semangat tersebut, sebuah transaksi tidak berhenti pada hubungan antara penjual dan pembeli.
Ada harapan agar aktivitas ekonomi juga memiliki nilai kepedulian bagi anak yatim dan kaum dhuafa.
“Membeli sama dengan berbagi.”
Kalimat itu menjadi semangat utama yang ingin dibangun melalui program MBG.
Bagi Bang Ali, dunia usaha dan kepedulian sosial bukan dua hal yang harus berjalan sendiri-sendiri. Keduanya dapat dipertemukan ketika sebuah usaha memiliki komitmen untuk memberi manfaat lebih luas.
Tak Berhenti di Satu Toko
Gagasan tersebut juga tidak berhenti pada Central Gold 88.
Bang Ali menyampaikan rencana untuk menghadirkan toko emas berikutnya. Jika terealisasi, toko tersebut direncanakan memiliki arah manfaat yang berkaitan dengan kebutuhan pondok pesantren.
Rencana itu menunjukkan bahwa konsep yang ingin dibangun bukan hanya soal memperluas usaha, tetapi juga memperluas ruang untuk berbagi.
Tentu, bagaimana program tersebut berjalan dan sejauh mana manfaatnya dirasakan masyarakat akan menjadi bagian penting dalam perjalanan berikutnya.
Kebaikan Tak Harus Menunggu Besar
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Palengaan akhirnya tidak hanya menyisakan kemeriahan selama 12 jam.
Ada silaturahmi. Ada kebersamaan. Ada makanan yang dibagikan. Ada masyarakat yang berkumpul. Dan ada gagasan tentang bagaimana kepedulian dapat terus hidup setelah sebuah acara berakhir.
Pesan yang dibawa Bang Ali menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Ia bisa berawal dari niat.
Kemudian diwujudkan melalui langkah sederhana.
Lalu dijaga agar manfaatnya terus mengalir.
Sebab bagi mereka yang menerima, kepedulian bukan sekadar bantuan. Ia adalah tanda bahwa di tengah kehidupan yang tidak selalu mudah, masih ada orang yang memilih untuk peduli.
Dan mungkin, di situlah makna sebuah cahaya.
Bukan tentang seberapa terang ia terlihat, melainkan seberapa jauh ia mampu menerangi kehidupan orang lain.
Editor : (Red)

























