Guru di Meja Laporan, Murid Kehilangan Adab di Era Gen Z

- Publisher

Rabu, 21 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Dafa Irwanto S,

Pimred TrendiKabar.com

Suatu hari, saya membaca berita:

seorang guru dilaporkan muridnya karena mencukur rambut.

Bukan karena luka.

Bukan karena kekerasan.

Tapi karena disiplin.

Di titik itu, dada saya terasa sesak.

Bukan karena marah, melainkan sedih.

Saya teringat masa ketika saya masih menjadi murid, pernah hidup sebagai santri. Di pesantren, kami diajari satu hal paling dasar sebelum ilmu: adab. Kami mengenal Ta’limul Muta’allim, kitab kecil yang tidak banyak teori, tetapi sarat makna bahwa ilmu tidak akan menetap di hati orang yang tidak memuliakan gurunya.

Dulu, jika rambut kami dianggap tak pantas, guru tak banyak bicara. Rambut dipotong, kepala ditundukkan. Tidak ada laporan. Tidak ada kamera. Tidak ada unggahan. Yang ada hanyalah rasa malu dan dari rasa malu itu, tumbuh kedewasaan.

Kini kita hidup di era digital, era Gen Z. Segala sesuatu bisa direkam, dipotong, dan diunggah dalam hitungan detik. Teguran guru bisa berubah menjadi potongan video tanpa konteks. Niat mendidik bisa menjelma “konten”. Dan dari layar ponsel, opini publik menghakimi lebih cepat daripada akal sehat bekerja.

Bukan Gen Z yang salah sepenuhnya. Mereka tumbuh di dunia yang mengajarkan satu hal sejak dini: hak harus dibela, perasaan harus dilindungi. Sayangnya, dunia digital sering lupa mengajarkan sisi lainnya: tanggung jawab, adab, dan batas.

Di sinilah guru berada dalam posisi paling rapuh. Ketika mendidik dengan tegas, ia berisiko viral. Ketika memilih diam, ia dianggap gagal. Maka banyak guru akhirnya mundur selangkah bukan karena tak peduli, tetapi karena takut.

Padahal, mari jujur:

banyak dari kita hari ini menjadi manusia yang tahan banting justru karena pernah ditegur keras, pernah merasa malu, pernah menangis diam-diam. Tidak semua luka melukai. Sebagian justru membentuk.

Saya tidak sedang membela kekerasan. Kekerasan tetap salah dan harus ditindak. Namun menyamakan pendisiplinan dengan kriminalisasi adalah kekeliruan fatal. Pendidikan karakter tidak bisa sepenuhnya diserahkan pada algoritma, regulasi kaku, atau pasal hukum.

Ta’limul Muta’allim mengajarkan bahwa adab kepada guru adalah pintu masuk keberkahan ilmu. Barangkali di era digital ini, kita perlu menerjemahkan ulang pesan itu: tanpa adab, ilmu hanya akan menjadi data; tanpa hormat, sekolah hanya menjadi bangunan.

Hari ini, kita bangga dengan generasi yang melek teknologi. Namun teknologi tanpa kebijaksanaan hanya melahirkan keberanian semu berani melapor, tetapi gagap berdialog; berani merekam, tetapi lupa merenung.

Jika setiap guru harus mengajar dengan rasa takut, maka pendidikan akan kehilangan keberanian untuk membentuk karakter. Dan jika sekolah hanya menjadi ruang aman dari teguran, maka jangan heran bila kita melahirkan generasi yang kuat di layar, tetapi rapuh di kehidupan nyata.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan soal Gen Z atau bukan,

melainkan:

apakah di tengah kecanggihan digital ini, kita masih mau menjaga adab sebagai fondasi pendidikan?

Editor : (Red)

Berita Terkait

Desa Poja dalam Pusaran Empat Persoalan, Krisis Tata Kelola Kian Terbuka
Badur Itu dari Kata Badrun, Artinya Bulan Purnama,” Pesan Mendalam Bang Ali di Peresmian Musolla AINUN BANI
Dafa Adi Wijaya Putra Bersinar di Madura Pop Talent 2026, Talenta Muda Sumenep yang Diyakini Siap Menuju D’Academy Indosiar
Dugaan Pungutan Berlebih Penyeberangan Kalianget–Talango Diusut, Sejumlah Operator Dipanggil Polisi
Modus Pinjam Sebentar Motor Raib, Mahasiswa Sumenep Laporkan Dugaan Penipuan Rp13 Juta ke Polisi
Satlantas Polres Sumenep Urai Kemacetan Antrean BBM di Sejumlah SPBU, Warga Diimbau Tertib
Khidmat dan Meriah, Wisuda Santri Ponpes AT-TA’AWUN Sumenep Jadi Momentum Cetak Generasi Berakhlak
Beradaptasi Dengan Kebutuhan Zaman, RSUD Moh. Anwar Dorong Transformasi Layanan Kesehatan

Berita Terkait

Kamis, 2 Juli 2026 - 18:08 WIB

Desa Poja dalam Pusaran Empat Persoalan, Krisis Tata Kelola Kian Terbuka

Senin, 29 Juni 2026 - 18:11 WIB

Badur Itu dari Kata Badrun, Artinya Bulan Purnama,” Pesan Mendalam Bang Ali di Peresmian Musolla AINUN BANI

Minggu, 28 Juni 2026 - 02:02 WIB

Dafa Adi Wijaya Putra Bersinar di Madura Pop Talent 2026, Talenta Muda Sumenep yang Diyakini Siap Menuju D’Academy Indosiar

Jumat, 26 Juni 2026 - 02:11 WIB

Dugaan Pungutan Berlebih Penyeberangan Kalianget–Talango Diusut, Sejumlah Operator Dipanggil Polisi

Jumat, 26 Juni 2026 - 01:41 WIB

Modus Pinjam Sebentar Motor Raib, Mahasiswa Sumenep Laporkan Dugaan Penipuan Rp13 Juta ke Polisi

Berita Terbaru

Foto: Kepala Desa Poja, Yuli Rizkianto, kini menjadi sorotan atas sejumlah persoalan di pemerintahan desa.

Hukum & Pemerintahan

Desa Poja dalam Pusaran Empat Persoalan, Krisis Tata Kelola Kian Terbuka

Kamis, 2 Jul 2026 - 18:08 WIB