SUMENEP, (TrendiKabar.com) – Suasana penuh haru dan kekhusyukan menyelimuti pelaksanaan Sholat Idul Adha 1447 Hijriah di Masjid Hidayatullah Atfal, Dusun Rambuk, Desa Nyabakan Barat, Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Rabu (27/5/2026) pagi.
Sejak sebelum matahari terbit, ratusan jamaah mulai berdatangan dari berbagai penjuru desa dengan mengenakan pakaian terbaik mereka. Gema takbir, tahmid, dan tahlil berkumandang bersahut-sahutan, menciptakan suasana religius yang begitu menyentuh hati.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallah, Allahu Akbar Wa Lillahil Hamd,” menggema di sekitar Dusun Rambuk, menyatukan warga dalam nuansa syukur dan kebersamaan.
Pelaksanaan sholat berlangsung khusyuk dipimpin imam setempat dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang lembut dan menyentuh. Banyak jamaah terlihat menundukkan kepala, bahkan meneteskan air mata ketika khutbah Idul Adha mulai disampaikan.
Dalam khutbahnya, khotib mengajak jamaah untuk meneladani keteguhan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam menjalankan perintah Allah SWT. Ia menegaskan bahwa makna kurban tidak hanya sebatas menyembelih hewan, tetapi juga menjadi simbol keikhlasan, pengorbanan, serta upaya menyingkirkan sifat egois dan kecintaan berlebihan terhadap dunia.
Pesan tersebut begitu membekas di hati jamaah. Sejumlah warga tampak tak kuasa menahan haru saat mendengarkan tausiyah yang sarat makna spiritual itu.
Tidak hanya orang dewasa, anak-anak yang tergabung dalam kelompok Atfal juga tampak tertib mengikuti rangkaian ibadah. Mereka duduk rapi mendengarkan khutbah, sementara para orang tua terlihat memandang anak-anak mereka dengan penuh harapan agar tumbuh menjadi generasi yang taat dan berakhlak mulia.
Usai pelaksanaan sholat dan khutbah, suasana berubah menjadi hangat penuh kebersamaan. Jamaah saling bersalaman, berpelukan, serta saling memaafkan satu sama lain dalam momentum Hari Raya Idul Adha.
Sejumlah warga menyebut pelaksanaan Sholat Idul Adha tahun ini menjadi salah satu momen ibadah paling menyentuh yang pernah mereka rasakan di desa tersebut.
Masjid Hidayatullah Atfal pun dinilai bukan sekadar tempat ibadah, melainkan menjadi pusat persaudaraan dan penguat nilai-nilai keimanan masyarakat Dusun Rambuk dan sekitarnya.
Momen haru yang tercipta pagi itu menjadi bukti bahwa nilai kebersamaan, ketakwaan, dan semangat pengorbanan masih hidup kuat di tengah masyarakat pedesaan. Air mata yang jatuh bukanlah tanda kesedihan, melainkan ungkapan rasa syukur dan kecintaan kepada Allah SWT dalam suasana Idul Adha yang penuh berkah.
Penulis : Harnawi
Editor : (Red)



























