Oleh: Fauzi As
(TrendiKabar.com) – Bang Bidin, BIP, dan Tanda Tanya Politik yang Mungkin Tidak Perlu Dijawab.
Dulu saya mengenalnya bukan sebagai tokoh besar. Bukan sebagai pemilik jaringan sosial yang melibatkan ribuan orang. Bukan pula sebagai figur yang namanya ramai dibicarakan di berbagai kabupaten.
Saya mengenalnya sebagai seorang penjual handphone.
Kalau ingatan saya tidak keliru, sekitar tahun 2009, di pojok Kampung Arab Sumenep, ada sebuah counter kecil bernama Bani Cell.
Tempatnya sederhana. Tidak megah. Tidak ramai kamera. Tidak ada panggung. Tidak ada baliho.
Yang ada hanya deretan handphone bekas yang saat itu menjadi barang impian banyak anak muda.
Nokia 3310.
Nokia 6600.
Nokia 7610.
Dan berbagai jenis ponsel yang pada masanya dianggap mewah.
Pemiliknya saya kenal dengan panggilan Bang Bidin.
Orangnya ramah.
Murah senyum.
Tidak banyak bicara.
Tetapi sangat pandai menghargai pelanggan.
Di masa ketika sebagian pedagang sibuk menjual barang, saya melihat dia lebih banyak menjual kepercayaan.
Lalu waktu berjalan.
Puluhan tahun saya tidak lagi bertemu dengannya.
Tahun demi tahun berlalu.
Sampai belakangan ini, nama yang dulu saya kenal sebagai pemilik counter HP itu tiba-tiba muncul di mana-mana.
Bukan karena bisnis handphone.
Tetapi karena kegiatan sosial.
Ada bedah rumah.
Ada bantuan sembako.
Ada rumah tahfidz.
Ada kegiatan kemanusiaan.
Ada ribuan orang yang bergerak.
Ada relawan.
Ada dokumentasi.
Ada massa.
Ada jaringan yang semakin luas.
Dan jujur saja, sebagai orang yang pernah mengenalnya sejak masa counter kecil itu, saya sempat bertanya-tanya.
“Ini sebenarnya mau ke mana?”
Karena dalam politik Indonesia, kita sudah terlalu sering melihat pola yang sama.
Awalnya bantuan sosial.
Lalu relawan.
Kemudian komunitas.
Setelah itu baliho.
Terakhir surat suara.
Maka ketika melihat Bani Insan Peduli (BIP) tumbuh begitu besar, pikiran saya pun mulai liar.
Jangan-jangan mau maju Pilkada?
Tapi rasanya aneh.
Gerakannya tidak hanya di satu kabupaten.
Lalu saya berpikir lagi.
Jangan-jangan sedang menyiapkan diri menuju Jawa Timur?
Namun pikiran itu terasa lebih tidak masuk akal lagi. Karena politik biasanya meninggalkan jejak.
Sementara yang saya lihat dari BIP justru lebih banyak jejak bantuan daripada jejak kampanye.
Semakin saya mencari jawabannya, semakin saya menemukan sesuatu yang justru tidak saya duga.
Ternyata cerita di balik BIP bukanlah cerita tentang kekuasaan. Tetapi tentang seorang anak yang kehilangan ibunya.
Ali Zaenal menjelaskan bahwa seluruh gerakan besar yang dilakukan BIP berangkat dari satu hal yang sangat sederhana.
Kerinduan.!!!
Kerinduan seorang anak kepada ibunya yang telah wafat.
Nama “Bani” yang selama ini dikenal masyarakat ternyata bukan nama organisasi yang dirancang oleh konsultan politik.
Bukan pula nama yang dipilih berdasarkan survei elektabilitas. “Bani” adalah marga sang ibu.
Sebuah nama yang dipilih bukan untuk mencari suara, melainkan untuk menjaga agar pahala terus mengalir kepada orang yang dicintainya.
Di titik ini saya mulai memahami sesuatu.
Kadang kita terlalu terbiasa melihat segala sesuatu dengan kacamata politik.
Orang membantu masyarakat?
Pasti mau nyalon.
Bangun rumah tahfidz?
Pasti cari suara.
Bagi sembako?
Pasti sedang membangun basis massa.
Padahal tidak semua orang bergerak karena jabatan.
Ada juga yang bergerak karena cinta.
Dan cinta memang sering kali menghasilkan pekerjaan yang tidak masuk akal.
Karena logika bisnis akan bertanya:
“Apa untungnya?”
Sementara cinta hanya bertanya:
“Apa yang bisa saya lakukan?”
Mungkin itulah yang menjelaskan mengapa BIP terus bergerak meski berbagai tudingan datang silih berganti.
Ali Zaenal tampaknya memahami satu hal yang sering dilupakan banyak orang.
Bahwa setiap orang besar selalu memiliki penonton yang lebih banyak daripada pendukung.
Dan setiap gerakan besar selalu melahirkan kecurigaan.
Bahkan para nabi pun tidak pernah luput dari fitnah.
Maka tidak mengherankan jika kegiatan sosial hari ini pun dianggap memiliki agenda tersembunyi.
Tetapi yang menarik, Ali tidak terlihat sibuk membantah.
Ia justru sibuk bekerja.
Membangun rumah.
Membantu warga.
Menyelenggarakan program.
Dan memperluas manfaat.
Di tengah zaman ketika banyak orang berlomba memperbesar foto dirinya sendiri, ia justru memilih memperbesar manfaat.
Tentu saja publik berhak bertanya.
Publik juga berhak curiga.
Karena sejarah memang mengajarkan kita untuk berhati-hati.
Tetapi publik juga harus adil.
Tidak semua gerakan sosial harus dipaksa menjadi gerakan politik.
Tidak semua keramaian harus diterjemahkan sebagai ambisi kekuasaan.
Kadang sebuah organisasi tumbuh besar bukan karena sedang mengejar kursi.
Melainkan karena sedang mengejar doa.
Dan mungkin inilah bagian yang paling menyentuh.
Di saat banyak orang sibuk mengumpulkan warisan untuk anak-anaknya, ada seseorang yang justru menghabiskan sebagian hartanya untuk mengirim hadiah kepada orang tuanya yang sudah tiada.
Bukan dalam bentuk bunga.
Bukan dalam bentuk batu nisan yang megah.
Tetapi dalam bentuk rumah yang layak.
Sembako yang sampai kepada warga.
Dan senyum orang-orang yang terbantu.
Saya pun akhirnya tersenyum sendiri.
Mengingat kembali counter kecil di pojok Kampung Arab itu.
Siapa sangka seorang penjual handphone yang dulu melayani pembeli Nokia dengan ramah, hari ini melayani ribuan orang melalui gerakan sosial yang jauh lebih besar.
Apakah suatu hari nanti ia akan masuk politik?
Saya tidak tahu.
Bisa saja.
Karena politik adalah jalan yang terbuka bagi siapa pun.
Tetapi untuk saat ini, setelah mendengar kisahnya secara utuh, saya justru melihat sesuatu yang lebih sederhana.
Mungkin BIP bukan sedang membangun jalan menuju kekuasaan.
Mungkin seorang anak hanya sedang membangun jalan panjang menuju surga untuk ibunya.
Dan jika itu benar, maka semua keramaian yang kita lihat hari ini mungkin hanyalah jejak-jejak cinta dari hati yang sepi tanpa ibundanya.
Editor : (Red)



























