SUMENEP, (TrendiKabar.com) – Tradisi siraman 7 bulanan dikenal luas di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Kabupaten Sumenep, Madura. Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari ritual kehamilan, tetapi juga menyimpan nilai edukatif tentang hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama.
Salah satu praktik tradisi tersebut dapat ditemui di Desa Tambaksari, Kecamatan Rubaru. Pada Selasa (31/12/2025), masyarakat setempat kembali melaksanakan tradisi 7 bulanan yang didampingi oleh sejumlah tokoh masyarakat, di antaranya Bapak Kholis, KH. Fathorrahman, KH. Madrus Alan Sari, dan KH. Hasan.
Bapak Kholis menjelaskan bahwa tradisi 7 bulanan merupakan perpaduan antara ajaran agama dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Dari sisi agama, inti utama prosesi ini adalah doa bersama, sebagai bentuk ikhtiar spiritual untuk memohon keselamatan ibu dan bayi hingga waktu kelahiran.
“Doa menjadi bagian terpenting, karena tujuan utamanya adalah memohon keselamatan dan kesehatan kepada Allah SWT,” ujar Bapak Kholis.
Dari sisi budaya, prosesi siraman mengandung simbol-simbol yang sarat makna edukatif. Kelapa berwarna kekuningan yang digunakan dalam siraman melambangkan harapan agar anak yang dilahirkan kelak tumbuh dengan kondisi fisik yang baik dan kehidupan yang bermanfaat. Kelapa juga dikenal sebagai tanaman serbaguna, yang seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan, sehingga menjadi simbol kebermanfaatan hidup.
Selain itu, gayung yang terbuat dari tempurung kelapa mencerminkan kesederhanaan dan kedekatan masyarakat dengan alam. Gagang gayung yang dibuat dari kayu pohon beringin melambangkan keteduhan, kekokohan, dan kebersamaan. Filosofinya, anak yang lahir diharapkan kelak menjadi pribadi yang mampu memberi ketenangan dan kesejahteraan bagi keluarga serta lingkungan sekitarnya.
Secara sosial, tradisi 7 bulanan juga memiliki fungsi edukatif sebagai media penguatan ikatan keluarga dan masyarakat. Prosesi ini mempertemukan keluarga besar dan warga sekitar dalam suasana kebersamaan, sekaligus menjadi sarana pewarisan nilai budaya kepada generasi muda.
Di Desa Tambak Sari, sebagaimana di sejumlah wilayah lain di Sumenep, tradisi siraman 7 bulanan umumnya hanya dilakukan pada kehamilan pertama. Praktik ini dipahami sebagai bentuk syukur awal atas anugerah kehidupan, sementara kehamilan berikutnya lebih ditekankan pada doa sederhana tanpa prosesi adat.
Dari perspektif keagamaan, usia tujuh bulan kandungan dipandang sebagai fase penting dalam perkembangan janin. Dalam ajaran Islam, pada usia empat bulan ruh telah ditiupkan, sementara pada usia tujuh bulan janin dianggap telah berkembang dengan sempurna dan siap menyongsong kelahiran. Karena itu, tradisi ini juga menjadi sarana edukasi spiritual tentang pentingnya doa dan kesiapan mental orang tua.
Meski bentuk dan simbol tradisi 7 bulanan dapat berbeda di setiap daerah, esensinya tetap sama, yakni menanamkan nilai syukur, harapan, dan tanggung jawab kepada calon orang tua. Di tengah perubahan zaman, tradisi ini menjadi pengingat bahwa budaya bukan sekadar ritual, melainkan ruang belajar tentang makna kehidupan.
Melalui tradisi 7 bulanan, masyarakat Sumenep tidak hanya merawat warisan leluhur, tetapi juga mewariskan nilai-nilai edukatif yang relevan lintas generasi.
Penulis : Mat Halil/Suri Hariady
Editor : (Red)



























