SUMENEP, (TrendiKabar.com) — Program Makan Bergizi (MBG) di Kecamatan Batang-Batang tercoreng setelah ditemukan buah tidak segar ikut dibagikan kepada siswa di sejumlah sekolah. Sorotan mengarah ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bhakti Bunda Berjaya yang berlokasi di Dusun Taroman, sebagai pelaksana teknis MBG di wilayah tersebut.
Temuan ini awalnya dipandang sebagai keluhan orang tua. Namun setelah dilakukan konfirmasi, justru keterangan dari pihak pelaksana membuka persoalan yang lebih mendasar: lemahnya pengawasan di tingkat SPPG.
Awak media menghubungi Zainuddin, Kepala SPPG Yayasan Bhakti Bunda Berjaya Batang-Batang, pada 8 Februari 2026. Ia membenarkan jabatannya.
Dalam klarifikasi lanjutan, ia menyatakan pelaksanaan MBG telah sesuai standar gizi sesuai arahan pengawas.
“Buah sebelumnya sudah kami sortir. Ternyata ada beberapa laporan dari sekolah ada yang busuk. Kami sudah menyampaikan permohonan maaf dan akan meningkatkan pengawasan,” jelasnya.
Pernyataan ini justru menjadi titik krusial.
Sebab jika benar sudah dilakukan sortir di tingkat SPPG, maka secara logika pengawasan, buah busuk seharusnya tidak mungkin lagi sampai ke tangan siswa.
Fakta bahwa buah tersebut tetap lolos menunjukkan bahwa proses kontrol mutu di SPPG tidak berjalan efektif, atau bahkan hanya bersifat administratif tanpa pemeriksaan riil terhadap kelayakan bahan pangan.
Di sinilah persoalan MBG di Batang-Batang tidak lagi soal “buah busuk”, melainkan indikasi kelalaian dalam sistem pengawasan pangan untuk siswa.
Permohonan maaf yang disampaikan SPPG dinilai tidak cukup menjawab pertanyaan mendasar:
- Siapa yang bertanggung jawab pada pemeriksaan akhir sebelum distribusi?
- Bagaimana standar kelayakan bahan pangan diterapkan?
- Mengapa pengawasan baru diperketat setelah temuan muncul?
Bagi wali murid, ini bukan sekadar kualitas makanan, tetapi soal kepercayaan terhadap program yang menyangkut kesehatan anak.
Kasus ini memperlihatkan bahwa titik rawan MBG bukan pada konsep programnya, melainkan pada disiplin pengawasan pelaksana di lapangan.
Jika pengawasan di tingkat SPPG bisa “lolos” pada hal yang terlihat secara kasat mata seperti buah busuk, maka publik wajar mempertanyakan seberapa ketat pengendalian mutu bahan makanan lainnya yang tidak terlihat langsung.
Penulis : Harnawi
Editor : (Red)



























