Baperan Ketika Kader Mulai Bicara Jujur

- Publisher

Minggu, 24 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: DF Politik Tidak Butuh Orang Baperan

(TrendiKabar.com) — Ada masa ketika politik diisi oleh orang-orang yang tahan banting. Diuji kritik tidak marah, dipertanyakan tidak goyah, bahkan disindir pun tetap mampu tersenyum sambil menunjukkan kualitas berpikirnya. Karena mereka sadar, politik bukan ruang mencari penghormatan pribadi, melainkan medan menguji kedewasaan.

Tapi hari ini, kadang yang terjadi justru sebaliknya.

Forum organisasi yang seharusnya menjadi tempat bertukar gagasan perlahan berubah seperti ruang steril yang hanya nyaman bagi tepuk tangan. Pertanyaan yang terlalu jujur dianggap mengganggu suasana. Kritik kecil diperlakukan seperti ancaman besar. Bahkan realitas lapangan sering dianggap kesalahan hanya karena tidak sesuai dengan narasi yang ingin didengar.

Ada kader dari Madura yang berbicara realistis soal dinamika politik. Tidak menyerang pribadi, tidak menjatuhkan organisasi. Hanya menyampaikan apa yang memang terjadi di bawah: bahwa politik itu dinamis, keras, dan tidak selalu bisa dikendalikan lewat slogan atau semangat di dalam ruangan ber-AC.

Sayangnya, respons yang muncul justru terkesan terlalu perasaan atau “baperan”, sampai keluar narasi bahwa “kalau Mas Ketum tahu, beliau akan kecewa.” Padahal yang disampaikan kader dari Madura bukan penghinaan, melainkan realitas politik yang memang keras dan dinamis. Ironisnya, di dunia politik hari ini, kadang kejujuran lebih menakutkan daripada kekalahan itu sendiri.

Respons itu terdengar lebih sibuk menjaga perasaan daripada menjawab substansi. Seolah-olah pertanyaan kader adalah dosa besar dalam organisasi. Padahal politik tidak pernah dibangun dari orang-orang yang mudah tersinggung. Politik dibangun dari mereka yang siap mendengar kenyataan, meski pahit dan tidak nyaman.

Karena itu ada satu kalimat yang mungkin relevan untuk keadaan hari ini:

“Ketika pertanyaan dianggap ancaman, berarti ada ketakutan yang sedang disembunyikan.”

Dan Madura memahami politik dengan cara yang berbeda.

Di Madura, orang tidak terlalu sibuk membungkus keberanian dengan bahasa aman. Mereka terbiasa bicara tegas karena hidup mereka dibentuk oleh realitas keras. Mereka tahu loyalitas bukan sekadar seragam, bukan sekadar yel-yel, dan bukan sekadar foto kegiatan. Loyalitas adalah keberanian menyampaikan kenyataan meski berisiko membuat elit tidak nyaman.

Sebab politik bukan panggung pencitraan bagi orang yang ingin selalu dipuji. Politik adalah arena bagi mereka yang siap dikoreksi, siap dipertanyakan, bahkan siap dipermalukan demi memperbaiki arah perjuangan.

Ironisnya, hari ini ada yang ingin terlihat revolusioner, tetapi panik menghadapi pertanyaan sederhana.

Ada yang gemar bicara perubahan, tetapi alergi terhadap suara kader bawah.

Ada yang ingin dianggap besar, tetapi emosinya masih kalah oleh satu mikrofon peserta forum.

Padahal kader dari Madura hanya sedang berbicara jujur tentang dinamika politik yang memang tidak selalu ideal. Sebab mereka tahu satu hal: politik bukan soal siapa paling pandai berbicara di forum, tetapi siapa yang paling siap bertahan saat badai datang.

Dan mungkin satire paling menyakitkan untuk keadaan seperti ini adalah:

“Jangan terlalu sibuk meminta kader kuat menghadapi lawan politik, jika mendengar kritik internal saja masih gemetar.”

Karena organisasi tidak akan runtuh oleh satu pertanyaan kritis. Organisasi runtuh ketika elitnya lebih takut pada suara kader sendiri daripada menghadapi lawan politik.

Editor : (Red)

Berita Terkait

Pers Dipanggil sebagai Mitra, Diperlakukan sebagai Penonton
Jaksa dan Polri Bugil di Tengah Jalan
Di Balik Ramainya Cacian, Saya Memilih Melihat Niat Baik
Penjahat Bernama Prabowo
Digitalisasi Desa Beluk Kenek: Membangun Kesejahteraan dari Akar Rumput melalui Transformasi Sosial
Presiden! KEK Tembakau: Jalan Pulang Ekonomi Madura
Pancasila yang Saya Temukan di Pinggir Jalan
Menjadi Kiblat Nilai, Refleksi Hari Lahir Pancasila bagi Pendidik

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 00:47 WIB

Pers Dipanggil sebagai Mitra, Diperlakukan sebagai Penonton

Selasa, 14 Juli 2026 - 14:39 WIB

Jaksa dan Polri Bugil di Tengah Jalan

Selasa, 14 Juli 2026 - 14:03 WIB

Di Balik Ramainya Cacian, Saya Memilih Melihat Niat Baik

Jumat, 12 Juni 2026 - 16:03 WIB

Penjahat Bernama Prabowo

Jumat, 5 Juni 2026 - 20:46 WIB

Digitalisasi Desa Beluk Kenek: Membangun Kesejahteraan dari Akar Rumput melalui Transformasi Sosial

Berita Terbaru

Opini

Jaksa dan Polri Bugil di Tengah Jalan

Selasa, 14 Jul 2026 - 14:39 WIB