PAMEKASAN, (TrendiKabar.com) — Langkah kemanusiaan Yayasan Bani Insan Peduli (BIP) seolah tak pernah berhenti. Setelah sukses menorehkan jejak kepedulian melalui tour sosial ke Lamongan dan Griya Lansia Malang, lalu melanjutkan aksi berbagi dalam momentum qurban, kini BIP kembali bergerak. Bukan sekadar bergerak, tetapi melaju kencang menembus ruang-ruang yang sering kali luput dari perhatian banyak orang.
Kali ini, BIP akan menyentuh hati para warga binaan Lapas Kelas IIA Pamekasan melalui sebuah agenda kemanusiaan bertajuk “Kolaborasi Kepedulian.”
Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 20 Juni 2026 pukul 15.00 WIB di Lapas Kelas IIA Pamekasan, Jalan Pembina No. 02, Jungcangcang, Pamekasan, bukan hanya agenda seremonial biasa. Ada pesan besar yang ingin disampaikan pesan tentang harapan, kesempatan kedua, dan keyakinan bahwa setiap manusia berhak untuk bangkit dari keterpurukan.
Founder BIP, Ali Zainal Abidin, dijadwalkan hadir langsung dalam kegiatan tersebut. Kehadirannya akan didampingi jajaran penting dari lingkungan pemasyarakatan, di antaranya Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur, Kusnali, A.Md.IP., S.Sos., M.H., serta Kepala Lapas Kelas IIA Pamekasan, Sugeno Hardono, A.Md.IP., S.H., M.M.
Tema yang diangkat pun begitu menggugah batin:
“Kemana Kita Akan Pergi?”
Sebuah kalimat sederhana. Namun ketika direnungkan, pertanyaan itu mampu mengetuk relung hati terdalam.
Ke mana manusia akan melangkah setelah melakukan kesalahan?
Ke mana seseorang akan pergi setelah hidupnya pernah runtuh?
Dan ke mana hati akan berlabuh ketika penyesalan datang terlambat?
Pertanyaan itu tidak hanya ditujukan kepada mereka yang berada di balik jeruji besi.
Tetapi juga kepada kita semua.
BIP tampaknya ingin menegaskan satu hal penting: kepedulian tidak boleh memilih.
Kepedulian tidak hanya untuk mereka yang terlihat lemah di jalanan. Tidak hanya untuk anak yatim, kaum dhuafa, lansia, ataupun penyandang disabilitas. Lebih dari itu, kepedulian juga harus hadir bagi mereka yang sedang berjuang menebus masa lalu mereka yang ingin berubah, tetapi sering kali kehilangan kepercayaan dari lingkungan sekitarnya.
Sebab sejatinya, di balik tembok penjara, tetap ada manusia yang memiliki hati, air mata, penyesalan, dan harapan untuk menjadi lebih baik.
Langkah BIP ini bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Selama ini, yayasan tersebut dikenal konsisten menghadirkan gerakan sosial yang menyentuh berbagai lapisan masyarakat. Dari santunan ribuan anak yatim hingga berbagai aksi sosial yang mengundang apresiasi luas dari publik, BIP terus menanamkan satu nilai: manusia hidup untuk memberi manfaat.
Gerakan sosial BIP sendiri lahir dari nilai yang sangat personal dan emosional. Yayasan ini dibangun sebagai bentuk bakti Ali Zainal Abidin kepada kedua orang tuanya, khususnya sang ibunda tercinta. Dari cinta seorang anak kepada orang tua, lahirlah gerakan besar yang kini menjadi cahaya bagi banyak orang.
Dan kini, cahaya itu dibawa masuk ke tempat yang sering diselimuti stigma dan penyesalan.
Ke dalam lapas.
Ke tempat di mana banyak orang mungkin kehilangan harapan.
Namun BIP datang membawa pesan berbeda.
Bahwa manusia tidak selamanya harus dihakimi oleh masa lalunya.
Ada yang pernah salah, lalu ingin berubah.
Ada yang pernah jatuh, lalu berusaha bangkit.
Ada yang pernah tersesat, lalu mencari jalan pulang.
Terkadang, yang mereka butuhkan bukan hukuman tambahan dari pandangan manusia.
Melainkan satu uluran tangan.
Satu pelukan kepedulian.
Satu keyakinan bahwa mereka masih pantas diberi kesempatan.
Mungkin, itulah makna terdalam dari langkah BIP kali ini.
Bahwa kepedulian sejati bukan tentang memilih siapa yang layak dibantu.
Melainkan tentang hadir tepat saat seseorang paling membutuhkan cahaya.
Karena pada akhirnya, dunia tidak selalu membutuhkan orang hebat.
Terkadang, dunia hanya membutuhkan lebih banyak orang yang peduli.
Seperti pesan yang terus digaungkan Bani Insan Peduli:
“Bersatu dalam kepedulian, bergerak untuk kebaikan.”
Penulis : Suri Hariady
Editor : (Red)

























