PAMEKASAN, (TrendiKabar.com) – Tak banyak yang menyadari, tiga ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan Founder BANI Insan Peduli (BIP), H. Ali Zainal Abidin atau yang akrab disapa Bang Ali, dalam Silaturahmi Relawan BANI Insan Peduli se-Madura di Ballroom Hotel Odaita, Pamekasan, Selasa (14/7/2026), ternyata menjadi pesan yang begitu dalam. Sehari kemudian, Yayasan BANI Insan Peduli (BIP) resmi dibubarkan. Tiga ayat itu pun seolah menjadi amanat terakhir yang ditinggalkan untuk seluruh relawan.
Di hadapan para relawan yang selama ini berjalan bersama dalam misi kemanusiaan, Bang Ali tidak berbicara tentang menyerah. Sebaliknya, ia mengajak seluruh relawan untuk tetap menjaga persatuan, memperkuat ukhuwah, dan terus berlomba-lomba dalam kebaikan (Fastabiqul Khairat), apa pun keadaan yang dihadapi.
Mengawali sambutannya, Bang Ali membacakan firman Allah SWT:
“Wa’tasimū bi ḥablillāhi jamī’an wa lā tafarraqū.”
Artinya, “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa sebesar apa pun ujian yang datang, persatuan dan keimanan harus tetap menjadi pegangan. Menurut Bang Ali, sebuah gerakan sosial hanya akan bertahan apabila dibangun di atas keikhlasan, kebersamaan, dan niat semata-mata mencari ridha Allah SWT.
Ia kemudian melanjutkan dengan firman Allah SWT:
“Wal takum minkum ummatuy yad’ūna ilal-khairi wa ya’murūna bil-ma’rūfi wa yan-hauna ‘anil-mungkar, wa ulā’ika humul-mufliḥūn.”
Artinya, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Di hadapan para relawan, Bang Ali menegaskan bahwa misi kemanusiaan tidak boleh berhenti hanya karena datangnya cobaan. Selama masih ada anak yatim yang membutuhkan kasih sayang, dhuafa yang menanti uluran tangan, dan masyarakat yang memerlukan kepedulian, maka perjuangan untuk berbuat baik harus terus berjalan.
Namun, takdir berkata lain.
Sehari berselang, Rabu (15/7/2026), Bang Ali mengumumkan bahwa Yayasan BANI Insan Peduli (BIP) resmi dibubarkan berdasarkan hasil musyawarah bersama jajaran pengurus dan pimpinan pusat yayasan.
Dengan penuh ketegaran, Bang Ali menyampaikan bahwa nama BANI Insan Peduli telah berakhir sebagai sebuah yayasan. Namun, ia berharap jejak kebaikan yang selama ini ditanamkan tetap hidup di hati para dhuafa, anak yatim, relawan, dan seluruh masyarakat yang pernah merasakan manfaatnya.
“Sudah tidak ada lagi nama Bani Insan Peduli. Biarlah cukup nama Bani Insan Peduli terukir di hati para dhuafa, anak yatim, dan semua yang pernah merasakan manfaatnya,” tutur Bang Ali.
Baginya, keputusan tersebut bukanlah keputusan yang mudah. Di balik pembubaran yayasan tersimpan proses musyawarah, pertimbangan, dan ikhtiar yang panjang. Namun berakhirnya sebuah lembaga tidak boleh dimaknai sebagai berakhirnya pengabdian kepada sesama.
Sebagai penutup, Bang Ali kembali membacakan firman Allah SWT:
“Allażīna yunfiqūna amwālahum bil-laili wan-nahāri sirraw wa ‘alāniyah, falahum ajruhum ‘inda rabbihim, wa lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yaḥzanūn.”
Artinya, “Orang-orang yang menginfakkan hartanya pada malam dan siang hari, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 274).
Ayat ketiga itu seolah menjadi penutup sekaligus arah baru. Selama hampir tiga tahun, BANI Insan Peduli dikenal menebarkan manfaat secara ‘alāniyah (terang-terangan) melalui santunan anak yatim, bantuan kepada dhuafa, layanan kemanusiaan, hingga berbagai aksi sosial lainnya. Kini, meski nama yayasan telah berakhir, Bang Ali menitipkan pesan agar semangat berbagi tidak ikut berhenti, melainkan terus dilanjutkan secara sirran (sembunyi-sembunyi), dengan keikhlasan yang hanya mengharap ridha Allah SWT.
Di akhir pesannya, Bang Ali berpesan agar para relawan tidak menjadikan pembubaran yayasan sebagai akhir dari perjuangan. Sebab yang berakhir hanyalah nama sebuah lembaga, sedangkan semangat Fastabiqul Khairat, kepedulian, dan pengabdian kepada sesama harus terus hidup, meski tak lagi berjalan di bawah nama BANI Insan Peduli.
Sebab, pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang mendirikan sebuah organisasi, tetapi juga siapa yang menghadirkan manfaat bagi sesama. Nama sebuah lembaga boleh berakhir, namun amal kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas akan tetap hidup, dikenang manusia, dan insya Allah tercatat di sisi Allah SWT.
Editor : (Red)

























