Dugaan Keracunan MBG di Sidoarjo Meluas, 512 Orang dari 19 Lembaga Terdampak

- Publisher

Kamis, 3 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Wagub Jatim Emil Dardak (duduk bawah, kemeja putih) saat meninjau pasien dugaan keracunan MBG di Sidoarjo.

Foto: Wagub Jatim Emil Dardak (duduk bawah, kemeja putih) saat meninjau pasien dugaan keracunan MBG di Sidoarjo.

SIDOARJO, (TrendiKabar.com) — Kasus dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, terus menjadi perhatian. Hingga Rabu (2/9/2026), jumlah warga yang mengalami gejala dan mendapat penanganan medis tercatat mencapai 512 orang.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan, para korban berasal dari 19 lembaga yang diketahui menerima makanan dari satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yakni SPPG Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo.

Hal tersebut disampaikan Emil usai meninjau langsung kondisi pasien di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo pada Selasa (1/9/2026) malam. Saat itu, sejumlah pasien masih menjalani pemeriksaan dan perawatan di sejumlah rumah sakit.

Menurut Emil, RSUD R.T. Notopuro menjadi salah satu fasilitas kesehatan yang menerima pasien dalam jumlah cukup besar. Bahkan, jumlah pasien yang datang sempat mendekati 300 orang sehingga rumah sakit melakukan langkah antisipasi dengan menambah kapasitas tempat tidur dan mengerahkan tenaga medis yang berstatus on call.

“Yang masuk itu sudah menjelang 300 pasien di rumah sakit Notopuro dan mereka semua tertangani dengan baik,” ujar Emil saat berbicara melalui Radio Suara Surabaya, Rabu (2/9/2026) pagi.

Dari ratusan pasien tersebut, sebagian besar telah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan penanganan. Namun, masih terdapat pasien yang menjalani observasi maupun rawat inap.

Emil menyebut sekitar 92 pasien masih berada dalam tahap observasi di RSUD R.T. Notopuro, sedangkan tiga pasien lainnya masih menjalani rawat inap.

Selain RSUD R.T. Notopuro, RS Siti Hajar juga menerima puluhan pasien. Dari sekitar 77 pasien yang datang, lebih dari 30 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.

Secara keseluruhan, terdapat delapan rumah sakit yang menerima pasien terkait dugaan keracunan makanan tersebut. RSUD R.T. Notopuro menjadi rumah sakit dengan jumlah pasien terbanyak, yakni sekitar 330 orang.

Emil meminta masyarakat tidak terjebak pada informasi yang seolah-olah mengaitkan seluruh korban hanya dengan satu pondok pesantren atau lembaga pendidikan tertentu.

Ia menegaskan, berdasarkan data yang diterima, korban tersebar dari 19 lembaga berbeda. Kesamaan di antara para korban adalah mereka sama-sama menerima makanan dari SPPG Kalitengah dan mengonsumsi menu yang sama.

“Kesamaannya adalah penerima dari SPPG yang sama dan mengonsumsi menu yang juga kebetulan sama,” jelasnya.

Meski demikian, penyebab pasti munculnya dugaan keracunan tersebut masih perlu ditelusuri lebih lanjut melalui pemeriksaan dan proses investigasi yang dilakukan pihak terkait.

Dalam penanganannya, tenaga medis juga tidak memberikan perlakuan yang sama kepada seluruh pasien. Tindakan medis disesuaikan dengan kondisi masing-masing, termasuk mempertimbangkan riwayat penyakit seperti asma maupun alergi terhadap obat tertentu.

Sebagian pasien yang telah memperoleh cairan melalui infus dilaporkan mulai menunjukkan perbaikan kondisi. Namun, beberapa pasien masih mengalami lemas yang diduga berkaitan dengan kehilangan cairan.

Lonjakan pasien akibat dugaan keracunan tersebut juga mendapat respons cepat dari rumah sakit dan pemerintah daerah. BPBD Sidoarjo turut membantu menyediakan tambahan tempat tidur untuk mengantisipasi apabila jumlah pasien kembali meningkat.

Emil mengapresiasi langkah RSUD R.T. Notopuro, Dinas Kesehatan Sidoarjo, BPBD Sidoarjo, serta Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dalam menghadapi situasi tersebut.

Ia memastikan, pelayanan di instalasi gawat darurat tetap berjalan untuk pasien dengan keluhan lain yang tidak berkaitan dengan dugaan keracunan MBG.

Tenaga medis yang sebelumnya berstatus on call turut didatangkan untuk memperkuat pelayanan sehingga pasien lain tetap mendapatkan penanganan sebagaimana mestinya.

Kasus ini masih menjadi perhatian pemerintah dan pihak terkait untuk memastikan penyebab dugaan keracunan serta mengevaluasi proses penyediaan dan distribusi makanan MBG dari SPPG yang bersangkutan.

Editor : (Red)

Berita Terkait

SPPG Yayasan Rizki Haqiqi Campaka Disorot, Diduga Abaikan Instruksi BGN soal Label Ompreng MBG
HUT ke-81 RI, RSUDMA Sumenep Teguhkan Komitmen Tingkatkan Pelayanan kepada Masyarakat
Transformasi Digital, RSUDMA Sumenep Optimalkan Sistem Rumah Sakit Online
Bawa Nama Baik RSUDMA, DWP Sumenep Raih Juara Gold Lomba Lagu Daerah
Permudah Akses Layanan, Poli Urologi RSUDMA Sumenep Kini Bisa Diakses Peserta BPJS
Melalui Indikator Mutu, RSUD Moh. Anwar Pastikan Pelayanan Terus Berkembang
Akreditasi Bukan Sekadar Penilaian, RSUD Moh. Anwar Bangun Budaya Kerja Berkualitas
Jelang Akreditasi 2026, RSUD Moh. Anwar Perkuat Budaya Mutu Lewat Lomba Kesiapan Ruangan

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 00:07 WIB

Dugaan Keracunan MBG di Sidoarjo Meluas, 512 Orang dari 19 Lembaga Terdampak

Selasa, 1 September 2026 - 15:57 WIB

SPPG Yayasan Rizki Haqiqi Campaka Disorot, Diduga Abaikan Instruksi BGN soal Label Ompreng MBG

Selasa, 18 Agustus 2026 - 19:47 WIB

HUT ke-81 RI, RSUDMA Sumenep Teguhkan Komitmen Tingkatkan Pelayanan kepada Masyarakat

Selasa, 18 Agustus 2026 - 19:37 WIB

Transformasi Digital, RSUDMA Sumenep Optimalkan Sistem Rumah Sakit Online

Selasa, 18 Agustus 2026 - 18:58 WIB

Bawa Nama Baik RSUDMA, DWP Sumenep Raih Juara Gold Lomba Lagu Daerah

Berita Terbaru