Tradisi Perpisahan Sekolah Dinilai Masih Relevan, Guru di Kediri: Banyak Manfaat Positifnya

- Publisher

Minggu, 1 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

KOTA KEDIRI, (TrendiKabar.com) — Di tengah maraknya wacana penghapusan acara perpisahan sekolah karena dianggap membebani orang tua dan menimbulkan sejumlah risiko, sejumlah pendidik menyampaikan pandangan berbeda. Salah satunya datang dari Santi Prehatin, S.Pd., Gr, guru di SDN Ngronggo 3 Kota Kediri, yang menilai kegiatan perpisahan tetap memiliki banyak nilai positif jika dikelola dengan bijak.

Menurut Santi, perpisahan sekolah merupakan momen penting yang memberikan pengalaman emosional dan sosial kepada siswa menjelang transisi ke jenjang pendidikan berikutnya.

“Perpisahan sekolah bukan hanya soal seremoni, tapi juga soal penghargaan terhadap proses belajar siswa dan menciptakan kenangan positif yang akan mereka ingat seumur hidup,” ujarnya kepada wartawan.

Tantangan dan Alasan Penolakan

Beberapa pihak sebelumnya menyuarakan kritik terhadap kegiatan perpisahan sekolah dengan berbagai alasan. Di antaranya adalah beban biaya yang tinggi, potensi kecelakaan saat kegiatan luar ruangan, hingga perilaku siswa yang dinilai berlebihan.

Sejumlah kasus bahkan mencuat di media sosial, seperti aksi konvoi ugal-ugalan atau pesta yang tidak terkontrol usai acara perpisahan. Situasi inilah yang membuat sebagian orang tua dan pihak sekolah mempertimbangkan untuk menghentikan tradisi tersebut.

Namun, Santi menilai bahwa solusi bukanlah dengan menghapus kegiatan sepenuhnya, melainkan dengan pendekatan yang lebih bijak dan kolaboratif.

Manfaat yang Tetap Relevan

Santi menyebutkan beberapa manfaat dari kegiatan perpisahan sekolah yang menurutnya perlu dipertimbangkan:

Meningkatkan rasa kebersamaan:

Acara perpisahan menjadi ruang untuk mempererat hubungan antara siswa dan guru, serta antarsiswa.

Refleksi pencapaian:

Siswa dapat mengenang kembali proses belajar mereka, serta mengapresiasi dukungan dari para guru dan staf.

Persiapan emosional menuju fase baru:

Kegiatan ini memberikan transisi psikologis yang sehat bagi siswa yang akan melanjutkan ke jenjang lebih tinggi.

Wadah bakat dan kreativitas:

Perpisahan sering menjadi momen siswa menunjukkan kemampuan di bidang seni, musik, atau literasi.

Menciptakan kenangan yang membekas:

Santi menilai bahwa memori perpisahan menjadi salah satu bagian paling dikenang dari masa sekolah.

Solusi dan Alternatif agar Tetap Berjalan

Untuk menjaga agar acara perpisahan tetap relevan dan tidak menimbulkan beban, Santi menawarkan beberapa solusi, antara lain:

1. Penghematan biaya:

Acara dapat digelar di sekolah dengan konsep sederhana namun bermakna, tanpa harus menyewa tempat mewah atau hiburan mahal.

2. Menggandeng sponsor lokal:

Sekolah bisa bekerja sama dengan alumni, pelaku usaha sekitar, atau pemerintah kelurahan untuk mendukung pendanaan acara.

3. Fokus pada kegiatan edukatif:

Daripada menggelar pesta besar, kegiatan seperti pemberian penghargaan, sesi refleksi, dan ucapan terima kasih dinilai lebih membangun.

4. Melibatkan seluruh elemen sekolah:

Perencanaan acara secara inklusif dengan melibatkan siswa, guru, orang tua, dan komite sekolah bisa mencegah kesalahpahaman.

5. Mengutamakan keamanan:

Pengawasan yang memadai dan protokol keselamatan harus disiapkan dengan matang jika acara dilakukan di luar sekolah.

Menjaga Tradisi, Merawat Makna

Santi berharap diskusi mengenai perpisahan sekolah tidak berujung pada penghapusan sepihak, melainkan menjadi evaluasi bersama untuk memperbaiki bentuk kegiatan tersebut agar lebih inklusif, hemat biaya, dan tetap bermakna.

“Tujuan utamanya adalah menghargai perjalanan pendidikan siswa. Tradisi ini seharusnya dirawat, bukan dihapuskan begitu saja,” pungkasnya.

Editor : (Red)

Berita Terkait

LHA Sempat Dikembalikan, Hampir 9 Bulan Kasus DD Poja-Kedatim di Kejari Sumenep Belum Jelas, Penanganan Dipertanyakan
Penantian Panjang Berbuah Lega, Warga Pasongsongan Akhirnya Kantongi Sertifikat Tanah
Tagihan Air Melonjak Rp700 Ribu, Dasar Akumulasi Perumda Sumekar Dipertanyakan
STAIM Tarate Resmi Bertransformasi Menjadi ISMU, Advokat Mas’odi Beri Apresiasi
Kasus Sabu Talango Jangan Berhenti di Pengguna, Asal Barang dan Pemasok Jadi Pertanyaan
Sorotan Fasilitas Mewah di Cibinong, Karutan Sumenep Tegaskan Tak Ada Perlakuan Khusus
Tagihan Air Melonjak Belasan Kali Lipat, Pelanggan Perumda Sumekar Pertanyakan Dasar Perhitungan
Kejari Luruskan Audit DD Poja dan Kebundadap Timur, Dokumen Direvisi, Arah Penanganan Dinanti

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 11:29 WIB

LHA Sempat Dikembalikan, Hampir 9 Bulan Kasus DD Poja-Kedatim di Kejari Sumenep Belum Jelas, Penanganan Dipertanyakan

Rabu, 30 September 2026 - 23:18 WIB

Penantian Panjang Berbuah Lega, Warga Pasongsongan Akhirnya Kantongi Sertifikat Tanah

Rabu, 30 September 2026 - 22:44 WIB

Tagihan Air Melonjak Rp700 Ribu, Dasar Akumulasi Perumda Sumekar Dipertanyakan

Rabu, 30 September 2026 - 01:55 WIB

Kasus Sabu Talango Jangan Berhenti di Pengguna, Asal Barang dan Pemasok Jadi Pertanyaan

Senin, 28 September 2026 - 22:12 WIB

Sorotan Fasilitas Mewah di Cibinong, Karutan Sumenep Tegaskan Tak Ada Perlakuan Khusus

Berita Terbaru

Teknologi

SURAT AI PADA PRESIDEN DAN MENHAN

Jumat, 2 Okt 2026 - 11:53 WIB