KOTA KEDIRI, (TrendiKabar.com) — Di tengah maraknya wacana penghapusan acara perpisahan sekolah karena dianggap membebani orang tua dan menimbulkan sejumlah risiko, sejumlah pendidik menyampaikan pandangan berbeda. Salah satunya datang dari Santi Prehatin, S.Pd., Gr, guru di SDN Ngronggo 3 Kota Kediri, yang menilai kegiatan perpisahan tetap memiliki banyak nilai positif jika dikelola dengan bijak.
Menurut Santi, perpisahan sekolah merupakan momen penting yang memberikan pengalaman emosional dan sosial kepada siswa menjelang transisi ke jenjang pendidikan berikutnya.
“Perpisahan sekolah bukan hanya soal seremoni, tapi juga soal penghargaan terhadap proses belajar siswa dan menciptakan kenangan positif yang akan mereka ingat seumur hidup,” ujarnya kepada wartawan.
Tantangan dan Alasan Penolakan
Beberapa pihak sebelumnya menyuarakan kritik terhadap kegiatan perpisahan sekolah dengan berbagai alasan. Di antaranya adalah beban biaya yang tinggi, potensi kecelakaan saat kegiatan luar ruangan, hingga perilaku siswa yang dinilai berlebihan.
Sejumlah kasus bahkan mencuat di media sosial, seperti aksi konvoi ugal-ugalan atau pesta yang tidak terkontrol usai acara perpisahan. Situasi inilah yang membuat sebagian orang tua dan pihak sekolah mempertimbangkan untuk menghentikan tradisi tersebut.
Namun, Santi menilai bahwa solusi bukanlah dengan menghapus kegiatan sepenuhnya, melainkan dengan pendekatan yang lebih bijak dan kolaboratif.
Manfaat yang Tetap Relevan
Santi menyebutkan beberapa manfaat dari kegiatan perpisahan sekolah yang menurutnya perlu dipertimbangkan:
Meningkatkan rasa kebersamaan:
Acara perpisahan menjadi ruang untuk mempererat hubungan antara siswa dan guru, serta antarsiswa.
Refleksi pencapaian:
Siswa dapat mengenang kembali proses belajar mereka, serta mengapresiasi dukungan dari para guru dan staf.
Persiapan emosional menuju fase baru:
Kegiatan ini memberikan transisi psikologis yang sehat bagi siswa yang akan melanjutkan ke jenjang lebih tinggi.
Wadah bakat dan kreativitas:
Perpisahan sering menjadi momen siswa menunjukkan kemampuan di bidang seni, musik, atau literasi.
Menciptakan kenangan yang membekas:
Santi menilai bahwa memori perpisahan menjadi salah satu bagian paling dikenang dari masa sekolah.
Solusi dan Alternatif agar Tetap Berjalan
Untuk menjaga agar acara perpisahan tetap relevan dan tidak menimbulkan beban, Santi menawarkan beberapa solusi, antara lain:
1. Penghematan biaya:
Acara dapat digelar di sekolah dengan konsep sederhana namun bermakna, tanpa harus menyewa tempat mewah atau hiburan mahal.
2. Menggandeng sponsor lokal:
Sekolah bisa bekerja sama dengan alumni, pelaku usaha sekitar, atau pemerintah kelurahan untuk mendukung pendanaan acara.
3. Fokus pada kegiatan edukatif:
Daripada menggelar pesta besar, kegiatan seperti pemberian penghargaan, sesi refleksi, dan ucapan terima kasih dinilai lebih membangun.
4. Melibatkan seluruh elemen sekolah:
Perencanaan acara secara inklusif dengan melibatkan siswa, guru, orang tua, dan komite sekolah bisa mencegah kesalahpahaman.
5. Mengutamakan keamanan:
Pengawasan yang memadai dan protokol keselamatan harus disiapkan dengan matang jika acara dilakukan di luar sekolah.
Menjaga Tradisi, Merawat Makna
Santi berharap diskusi mengenai perpisahan sekolah tidak berujung pada penghapusan sepihak, melainkan menjadi evaluasi bersama untuk memperbaiki bentuk kegiatan tersebut agar lebih inklusif, hemat biaya, dan tetap bermakna.
“Tujuan utamanya adalah menghargai perjalanan pendidikan siswa. Tradisi ini seharusnya dirawat, bukan dihapuskan begitu saja,” pungkasnya.
Editor : (Red)



























