Oleh: Dafa Irwanto S.
SUMENEP, (TrendiKabar.com) — Barangkali udara di Ibu Kota Negara (IKN) memang lebih segar dari debu jalan desa.
Mungkin itu sebabnya sejumlah kepala desa dari Sumenep merasa perlu menempuh ribuan kilometer untuk “menyegarkan pikiran”.
Karena kalau di desa, yang dihirup setiap hari cuma debu proyek mangkrak dan keluhan warga yang tak kunjung reda.
Tak ada yang salah dengan berkunjung.
Namanya juga pejabat, kadang butuh healing setelah menghadapi laporan keuangan dan permintaan warga yang tak ada habisnya.
Tapi yang agak lucu, tempat “belajar” mereka justru ke wilayah yang masih belajar berdiri.
IKN belum jadi, tapi sudah ramai dikunjungi mirip warung yang baru pasang spanduk, belum buka tapi kursinya sudah penuh.
Katanya mau belajar pembangunan.
Tapi untuk belajar membangun, bukankah lebih logis melihat desa yang sudah selesai membangun bukan proyek negara yang masih ditimbun tanah merah?
Ah, mungkin mereka mau belajar cara groundbreaking, siapa tahu nanti bikin proyek tugu di balai desa biar tampak “nasionalis”.
Soal dana? Jangan tanya.
Kalau dibilang dari kas desa, itu bisa gawat. Tapi kalau dibilang dana pribadi, publik juga bingung sebab belum pernah dengar kepala desa punya bisnis travel lintas pulau.
Yang jelas, tiket pesawat bukan hasil patungan warga.
Namun begitulah gaya kepemimpinan zaman kini:
Rakyatnya masih berkutat dengan jalan berlubang, tapi pemimpinnya sibuk menapak di jalan tol menuju “masa depan”.
Seolah-olah melihat IKN bisa menambal lubang di jalan desanya sendiri.
Barangkali sepulang dari sana, mereka akan berkata,
“Lihat, di IKN nanti semuanya canggih dan modern.”
Sayangnya, rakyat di desa cuma ingin satu hal: jalan yang bisa dilewati tanpa takut ban motornya terperosok.
Kita tentu mendukung niat belajar, asal belajar yang benar bukan liburan berjubah kunjungan kerja.
Karena sebaik-baiknya kepala desa, bukan yang paling sering bepergian, tapi yang paling sering turun ke tanah desanya sendiri.
Toh, percuma jauh-jauh ke IKN kalau pulangnya tetap melewati jalan berdebu yang sama.
Dan di situlah ironi itu berakhir:
Negara sedang membangun ibu kotanya, tapi banyak desa masih kehilangan “kepalanya”.
Editor : (Red)



























