SUMENEP, (TrendiKabar.com) – Program Makan Bergizi (MBG) yang seharusnya menjadi penopang asupan nutrisi siswa justru menuai sorotan serius. Di salah satu sekolah Yayasan Taklimus Syhibyan, Desa Kolpo, Kecamatan Batang-Batang, menu MBG dilaporkan dalam kondisi tidak layak konsumsi, Rabu (8/4/2026).
Informasi yang dihimpun menyebutkan, menu ayam yang dibagikan kepada siswa mengeluarkan bau tidak sedap. Seorang guru berinisial “I” membenarkan kondisi tersebut, yang kemudian memicu penolakan dari sejumlah siswa.
Penolakan itu bukan tanpa alasan. Sejumlah siswa menilai makanan yang disajikan sudah tidak layak dimakan, sehingga memilih untuk tidak mengonsumsinya. Situasi ini pun memicu kekhawatiran terkait standar keamanan pangan dalam program MBG.
Peristiwa tersebut dengan cepat menyebar dan menjadi perbincangan di media sosial, khususnya TikTok. Dalam beberapa video yang beredar, tampak siswa menolak makanan yang dibagikan karena dinilai berbau.
Dugaan masalah kualitas ini juga diperkuat oleh komentar salah satu akun TikTok bernama Hernawati. Ia menyebut persoalan serupa tidak hanya terjadi di satu sekolah.
“Sekolahnya di Kolpo, MBG-nya dari Batang-Batang Daya Taroman. Tidak cuma sekolah itu, yang lain juga bau,” tulisnya.
Menu MBG tersebut diketahui berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bhakti Bunda Berjaya di Kecamatan Batang-Batang. Namun hingga kini, belum ada klarifikasi resmi dari pihak penyelenggara terkait dugaan makanan tidak layak konsumsi tersebut.
Kondisi ini memunculkan dugaan adanya kelalaian dalam proses pengolahan hingga distribusi makanan. Padahal, program MBG seharusnya mengedepankan standar ketat terkait kualitas dan keamanan pangan.
Jika dugaan ini terbukti, maka persoalan ini tidak bisa dianggap sepele. Ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan indikasi kegagalan dalam menjamin hak dasar siswa atas makanan yang aman dan layak konsumsi.
Pihak terkait didesak segera melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk memastikan kontrol kualitas berjalan maksimal. Tanpa pengawasan ketat, program yang dirancang untuk meningkatkan gizi justru berpotensi menjadi ancaman bagi kesehatan siswa.
Penulis : Mat Halil/Suri Hariady
Editor : (Red)



























