SUMENEP, (TrendiKabar.com) – Turnamen bola voli Piala Bupati Club Sumenep 2026 yang digelar di Lapangan RJ Impack, Desa Kasengan, Kecamatan Manding, mendadak diselimuti polemik. Bukan soal pertandingan, melainkan soal kepercayaan publik yang mulai dipertanyakan.
Sejumlah penonton menyoroti adanya selisih harga tiket antara yang diumumkan sebelumnya dengan yang diberlakukan di lokasi. Harga resmi yang beredar luas tercantum Rp15.000, namun di lapangan penonton justru diminta membayar Rp20.000 per lembar tanpa penjelasan resmi.
Salah satu penonton berinisial OB mengaku merasa dirugikan.
“Kami datang dengan informasi Rp15 ribu. Tapi di lokasi langsung jadi Rp20 ribu. Tidak ada penjelasan, tidak ada pemberitahuan. Ini bukan soal lima ribu, tapi soal kejelasan,” ujarnya, Minggu malam (3/5/2026).
Persoalan ini tidak berhenti pada nominal. Selisih harga yang terjadi secara sepihak memunculkan pertanyaan mendasar: di mana transparansi panitia dalam mengelola kegiatan yang membawa nama Piala Bupati?
Dalam kegiatan publik, terlebih yang menggunakan simbol pemerintah daerah, setiap kebijakan termasuk perubahan harga seharusnya disampaikan secara terbuka. Tanpa itu, ruang abu-abu akan selalu melahirkan kecurigaan.
Penonton pun mulai mempertanyakan alur dana dari selisih Rp5.000 tersebut. Apakah masuk dalam kas resmi, digunakan untuk kebutuhan tambahan, atau tidak tercatat secara jelas?
“Kalau memang ada kebutuhan tambahan, sampaikan saja. Jangan diam-diam seperti ini. Ini acara besar, bukan kegiatan kecil,” tegas OB.
Hingga berita ini diturunkan, pihak panitia pelaksana belum memberikan klarifikasi resmi karena awak media belum memperoleh akses untuk mengonfirmasi hal tersebut. Kondisi ini berpotensi memperlebar persepsi negatif di tengah publik.
Di tengah tingginya antusiasme masyarakat terhadap pertandingan dan partisipasi klub-klub unggulan, polemik tiket ini menjadi catatan serius.
Sebab dalam setiap kegiatan publik, kepercayaan adalah modal utama dan transparansi adalah cara menjaganya.
Jika hal sederhana seperti tiket saja menimbulkan pertanyaan, maka wajar jika publik mulai bertanya lebih jauh.
Penulis : Mat Halil
Editor : (Red)



























