Sebelum Dunia Mengenal Namaku, Ibu Lebih Dulu Menyebut Namaku dalam Doanya

- Publisher

Rabu, 9 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Senyum seorang ibu, di baliknya tersimpan doa yang tak pernah berhenti untuk anak-anaknya.

Foto: Senyum seorang ibu, di baliknya tersimpan doa yang tak pernah berhenti untuk anak-anaknya.

Oleh: Dafa Irwanto Saputra

(TrendiKabar.com) — Aku bukanlah siapa-siapa.

Belum menjadi apa-apa.

Aku hanya seorang anak yang sampai hari ini masih terus berjalan, masih belajar memahami hidup, masih sering salah, dan masih berusaha menjadi lebih baik dari diriku yang kemarin.

Tidak semua langkahku mudah.

Ada banyak hal yang harus aku lewati sendiri. Ada rasa lelah yang terkadang tidak bisa aku ceritakan. Ada kegagalan yang membuatku bertanya, apakah suatu hari nanti aku benar-benar bisa menjadi seseorang yang membanggakan?

Tapi setiap kali pertanyaan itu muncul, aku selalu teringat satu hal…

Ada orang tua yang selalu mendoakanku.

Terutama ibu.

Sejak aku kecil sampai sekarang, mungkin aku sudah terlalu sering membuat ibu kecewa.

Terkadang hanya karena perbedaan pendapat.

Terkadang karena cara bicaraku yang salah.

Terkadang karena cerita yang tidak tersampaikan dengan baik, hingga akhirnya menjadi kesalahpahaman dan membuat emosi.

Aku tahu itu salah.

Dan setelah semuanya reda, sering kali aku hanya bisa terdiam dan menyesal.

Bukan karena aku tidak menyayangi ibu.

Justru karena aku terlalu menyayanginya, aku sering merasa bersalah ketika sadar bahwa perkataanku pernah membuat hatinya terluka.

Aku masih belajar.

Belajar menjadi anak yang lebih sabar.

Belajar memahami.

Belajar menjaga ucapan.

Belajar menjadi seseorang yang suatu hari nanti bisa membuat ibu tenang melihat masa depanku.

Tapi ada satu hal yang selalu membuatku terdiam…

Ibu tidak pernah berhenti mendoakanku.

Seberapa pun sering aku salah, ibu tetap mendoakan.

Seberapa pun aku membuatnya khawatir, ibu tetap berharap.

Dan seberapa pun jauh aku berjalan, doa ibu seperti selalu menemukan jalan untuk menyertaiku.

Mungkin dulu aku tidak mengerti.

Aku pikir ibu hanya sekadar mendoakan anaknya.

Tapi sekarang aku mulai mengerti…

Doa seorang ibu bukan sekadar kata-kata.

Mungkin ada banyak langkahku yang sampai hari ini sebenarnya sedang dijaga oleh doa yang tidak pernah aku dengar.

Mungkin ada banyak hal buruk yang tidak pernah aku tahu, tapi Tuhan jauhkan karena ada ibu yang menyebut namaku dalam doanya.

Bu…

Maaf kalau sampai hari ini aku belum menjadi anak yang ibu harapkan.

Maaf kalau aku masih sering salah.

Maaf kalau terkadang aku membuat ibu lelah.

Aku belum bisa memberikan banyak hal.

Aku belum bisa membalas semua pengorbananmu.

Aku bahkan masih sering menjadi anak yang hanya bisa menerima doa, tanpa tahu bagaimana cara membalasnya.

Tapi aku ingin terus berusaha.

Aku ingin suatu hari nanti, ketika ibu melihatku, ibu tidak lagi merasa khawatir tentang masa depanku.

Aku ingin melihat senyum ibu yang benar-benar lega.

Senyum yang berkata tanpa suara:

“Anakku akhirnya sampai juga.”

Dan jika suatu hari nanti aku berhasil menjadi seseorang…

Jangan bilang aku hebat.

Jangan bilang aku kuat.

Karena aku tahu, ada doa yang jauh lebih kuat daripada diriku.

Ada seorang ibu yang sejak aku belum mengerti apa-apa tentang dunia, sudah lebih dulu menitipkan masa depanku kepada Tuhan.

Aku mungkin belum menjadi siapa-siapa hari ini.

Tapi aku akan terus berjalan.

Karena aku ingin suatu hari nanti bisa pulang…

bukan membawa kesombongan karena telah berhasil,

tetapi membawa senyum untuk orang yang selama ini tidak pernah lelah menungguku berhasil.

Dan jika kelak dunia mengenal namaku…

aku ingin tetap mengingat satu hal:

Sebelum dunia mengenal namaku, ibu sudah lebih dulu menyebut namaku dalam doanya.

Mungkin itulah alasan…

mengapa sampai hari ini aku masih terus mencoba.

Editor : (Red)

Berita Terkait

Jika Kesalahan Bisa Ditawar, Di Mana Wibawa Hukum
Merdeka di Tiang Bendera
Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun
Pers Dipanggil sebagai Mitra, Diperlakukan sebagai Penonton
Jaksa dan Polri Bugil di Tengah Jalan
Di Balik Ramainya Cacian, Saya Memilih Melihat Niat Baik
Penjahat Bernama Prabowo
Digitalisasi Desa Beluk Kenek: Membangun Kesejahteraan dari Akar Rumput melalui Transformasi Sosial

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 03:03 WIB

Sebelum Dunia Mengenal Namaku, Ibu Lebih Dulu Menyebut Namaku dalam Doanya

Kamis, 27 Agustus 2026 - 01:06 WIB

Jika Kesalahan Bisa Ditawar, Di Mana Wibawa Hukum

Senin, 17 Agustus 2026 - 07:23 WIB

Merdeka di Tiang Bendera

Sabtu, 18 Juli 2026 - 12:16 WIB

Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun

Kamis, 16 Juli 2026 - 00:47 WIB

Pers Dipanggil sebagai Mitra, Diperlakukan sebagai Penonton

Berita Terbaru