Kaesang, PSI, dan Politik Jokowi Effect

- Publisher

Jumat, 30 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Logo PSI tampak di sisi kiri, berdampingan dengan Ketua Umum PSI dan Presiden RI ke-7

Foto: Logo PSI tampak di sisi kiri, berdampingan dengan Ketua Umum PSI dan Presiden RI ke-7

Oleh: Dafa Irwanto S, Pimred Media TrendiKabar.com

Rakernas PSI 2026 di Makassar, 29–31 Januari 2026, bukan agenda biasa. Ini bukan sekadar rapat partai. Ia adalah penegasan bahwa politik Jokowi belum benar-benar selesai.

PSI kini sepenuhnya berada di bawah komando Kaesang Pangarep. Seorang pengusaha muda yang sebelumnya dikenal lewat bisnis kuliner Sang Pisang. Minim rekam jejak politik, nyaris tanpa track record kepartaian, namun langsung menempati posisi puncak: Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia.

Dalam politik, loncatan semacam ini jarang berdiri sendiri. Biasanya, selalu ada kekuatan di belakangnya.

Kaesang tidak tumbuh melalui proses kaderisasi. Ia bukan aktivis lama, bukan legislator, bukan kepala daerah. Karier politiknya melesat tajam. Di titik ini, akal sehat publik wajar bertanya: dari mana daya dorongnya?

Jawabannya bukan ideologi.

Bukan pula gagasan besar.

Jawabannya satu: Jokowi Effect.

Nama Jokowi masih bekerja. Popularitasnya tetap kuat, baik di mata publik maupun dalam lanskap kekuasaan politik. Meski tak lagi menjabat, jejaringnya tetap hidup. Pengaruhnya terasa. Legitimasi politiknya belum benar-benar habis. Dan PSI menjadi salah satu saluran terdekatnya.

Apakah Jokowi mengatur secara langsung?

Tak ada bukti formal. Namun politik jarang bergerak melalui surat perintah. Ia lebih sering hidup lewat restu diam-diam, kedekatan personal, dan pembiaran yang disengaja.

Dalam konteks ini, Kaesang tampil sebagai wajah baru dari politik lama: muda, santai, viral, namun tetap berada dalam orbit kekuasaan yang sama.

Tanda paling nyata dari Jokowi Effect terlihat dari satu fenomena penting: arus kader partai lain yang mulai berlabuh ke PSI.

Masuknya tokoh-tokoh tersebut bukan semata karena figur Kaesang, melainkan karena PSI dipersepsikan sebagai kelanjutan dari legacy politik Jokowi yang masih hidup.

Nama-nama seperti Ahmad H.M. Ali, Bestari Barus, dan Rusdi Masse Mappasessu (RMS) semuanya eks kader strategis NasDem menjadi contoh nyata. Mereka bukan figur pinggiran. Mereka adalah aktor politik dengan jaringan, basis, dan pengalaman kekuasaan. Bagi kader dari partai lain, soal waktu saja sebelum mengikuti jejak yang sama.

Sulit menyebut ini kebetulan.

Lebih masuk akal membacanya sebagai kalkulasi politik.

PSI kini dipandang sebagai partai yang “punya masa depan” karena kedekatannya dengan Jokowi, yang dikemas lewat figur Kaesang. Bergabungnya RMS tokoh dengan basis regional kuat di Sulawesi Selatan mempertebal kesan bahwa ini bukan proses kaderisasi, melainkan akumulasi jaringan kekuasaan.

Namun persoalannya tetap sederhana: di mana gagasannya?

Jika PSI hanya menjadi kendaraan politik keluarga dengan kemasan anak muda, maka seluruh jargon antidinasti dan anti-oligarki yang dulu mereka gaungkan runtuh dengan sendirinya.

Rakernas Makassar seharusnya bukan sekadar panggung seremoni. Ini adalah ujian arah.

Apakah PSI akan keluar dari bayang-bayang Jokowi dengan gagasan mandiri, atau justru mengukuhkan diri sebagai perpanjangan dari Jokowi Effect?

Pertanyaannya kemudian:

Apakah PSI bisa benar-benar besar tanpa Jokowi Effect?

Ataukah Jokowi justru akan menjadi figur sentral tersendiri di tubuh PSI, sementara Ketua Umumnya hanyalah “putra mahkota” dari kekuasaan itu sendiri?

Publik berhak curiga.

Bukan karena sentimen pribadi.

Melainkan karena demokrasi yang sehat tidak seharusnya digerakkan oleh pengaruh keluarga bahkan setelah kekuasaan formal berakhir. Jika demikian, di mana posisi PSI sebagai “Partai Terbuka” yang katanya membuka ruang partisipasi luas, namun pada praktiknya juga membuka jalan bagi dinasti politik?

Editor : (Red)

Berita Terkait

Merdeka di Tiang Bendera
Mahasiswa Desak DPRD Sumenep Siapkan Regulasi Pencegahan dan Penanganan LGBT
BESOK DPRD SUMENEP DIDATANGI SPEAR OF JUSTICE, ISU LGBTQ DALAM PERPRES 111/2025 JADI SOROTAN
Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun
Pers Dipanggil sebagai Mitra, Diperlakukan sebagai Penonton
Jaksa dan Polri Bugil di Tengah Jalan
Di Balik Ramainya Cacian, Saya Memilih Melihat Niat Baik
Respons Kegaduhan Lagu “Lalaki Langit”, Kemendagri Minta Klarifikasi Bupati Purwakarta

Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 07:23 WIB

Merdeka di Tiang Bendera

Jumat, 14 Agustus 2026 - 15:27 WIB

Mahasiswa Desak DPRD Sumenep Siapkan Regulasi Pencegahan dan Penanganan LGBT

Rabu, 12 Agustus 2026 - 17:27 WIB

BESOK DPRD SUMENEP DIDATANGI SPEAR OF JUSTICE, ISU LGBTQ DALAM PERPRES 111/2025 JADI SOROTAN

Sabtu, 18 Juli 2026 - 12:16 WIB

Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun

Kamis, 16 Juli 2026 - 00:47 WIB

Pers Dipanggil sebagai Mitra, Diperlakukan sebagai Penonton

Berita Terbaru