Oleh Redaksi TrendiKabar.com
JAKARTA, Hari ini, 16 April 2025, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) memperingati hari jadinya yang ke-72. Dikenal sebagai pasukan elite milik TNI Angkatan Darat, Kopassus telah melewati sejarah panjang perjuangan dengan prestasi yang mencengangkan, baik dalam operasi militer terbuka maupun misi-misi rahasia yang tak semua dicatat dalam dokumen publik.
Dari Kesatuan Kecil ke Legenda Militer
Kopassus dibentuk pada 16 April 1953 dengan nama awal Kesatuan Komando Territorium III (Kesko TT III) di Batujajar, Jawa Barat. Pembentukan ini digagas oleh Kolonel A.E. Kawilarang yang terinspirasi dari pengalaman pahit TNI menghadapi pemberontakan DI/TII di Jawa Barat, di mana militer merasa butuh satuan khusus yang dapat bergerak cepat, tangkas, dan memiliki spesialisasi tempur di segala medan.
Dari sinilah, satuan kecil tersebut berkembang menjadi Komando Pasukan Sandi Yudha (RPKAD), lalu menjadi Komando Pasukan Khusus (Kopassus) pada 1985, hingga kini menjadi simbol keperkasaan militer Indonesia.
Prestasi yang Diakui Dunia
Kopassus tidak hanya disegani di dalam negeri, tetapi juga mendapatkan pengakuan internasional sebagai salah satu pasukan elite terbaik dunia. Beberapa prestasi utama yang menegaskan reputasi tersebut antara lain:
Operasi Pembebasan Sandera Mapenduma (1996): Dalam misi ini, Kopassus berhasil membebaskan sejumlah peneliti asing yang disandera oleh kelompok bersenjata di Papua. Operasi ini menuai pujian karena kecepatan dan presisi manuver pasukan.
Operasi Penumpasan Gerakan Separatis: Sejak era DI/TII, PRRI/Permesta, hingga konflik bersenjata di Aceh dan Papua, Kopassus kerap diterjunkan dalam operasi yang bersifat taktis dan berisiko tinggi.
Misi Intelijen dan Operasi Tertutup: Meski tak banyak terekspos, Kopassus juga dikenal sebagai tulang punggung intelijen tempur di medan konflik. Banyak operasi “senyap” yang disinyalir tak lepas dari peran satuan ini.
Prestasi Lomba Internasional: Kopassus tercatat pernah menempati posisi tiga besar dalam berbagai ajang latihan militer internasional, seperti Cambrian Patrol di Inggris dan Special Forces Competition di Thailand.
Dari Medan Tempur hingga Bencana Alam
Tak hanya di garis depan pertempuran, Kopassus juga aktif dalam misi kemanusiaan, termasuk evakuasi korban bencana alam seperti tsunami Aceh, gempa Yogyakarta, dan erupsi Gunung Merapi. Mobilitas tinggi dan kemampuan bertahan di medan ekstrem menjadikan mereka andalan dalam penanganan krisis.
Tantangan Masa Kini
Meski prestasinya gemilang, Kopassus tak luput dari kritik di masa lalu, termasuk dugaan pelanggaran HAM pada beberapa operasi. Namun, transformasi profesionalisme militer Indonesia belakangan ini mendorong pembaruan internal dalam tubuh Kopassus.
Kini, dengan semangat “Berani, Benar, Berhasil”, Kopassus terus menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman, termasuk dalam menghadapi ancaman non-konvensional seperti terorisme digital, sabotase infrastruktur, dan perang hibrida.
Di usia ke-72, tantangan Kopassus bukan hanya menjaga keutuhan wilayah, tapi juga menjaga kepercayaan rakyat. Pasukan baret merah ini bukan sekadar pasukan tempur mereka adalah simbol ketahanan dan kehormatan militer Indonesia.



























