SUMENEP, (TrendiKabar.com) — Polemik roti yang dibagikan kepada siswa dan diketahui nyaris memasuki masa kedaluwarsa dalam program pemenuhan gizi di Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, hingga kini masih menyisakan tanda tanya.
Kasus ini bukan pertama kali menjadi perhatian publik. Sebelumnya, program yang dijalankan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bhakti Bunda Berjaya juga sempat dipersoalkan setelah ditemukan buah yang tidak segar ikut dibagikan kepada siswa di sejumlah sekolah.
Dua kejadian yang terjadi secara beruntun tersebut memicu kekhawatiran masyarakat terkait kualitas makanan dalam program pemenuhan gizi bagi anak-anak sekolah, yang seharusnya memenuhi standar kelayakan konsumsi.
Hingga kini, Zainuddin selaku Kepala SPPG Yayasan Bhakti Bunda Berjaya masih belum memberikan penjelasan kepada publik meski polemik terus bergulir dan upaya konfirmasi telah dilakukan.
Ironisnya, di tengah sorotan soal kualitas makanan bagi siswa tersebut, akun media sosial TikTok yang menampilkan aktivitas SPPG justru memperlihatkan kegiatan buka puasa bersama (Bukber) yang digelar oleh Yayasan Bhakti Bunda Berjaya di Hotel Myze Sumenep. Situasi ini memantik reaksi publik karena dinilai kontras dengan persoalan yang sedang dipertanyakan masyarakat.
Ketua Karya Anak Bangsa, Ahmad Rijali, mengecam keras sikap bungkam tersebut. Menurutnya, persoalan pangan yang diberikan kepada anak-anak sekolah tidak boleh dipandang sepele.
“Ini menyangkut kesehatan dan masa depan anak-anak. Kalau ada persoalan seperti ini, seharusnya dijelaskan secara terbuka kepada publik, bukan justru didiamkan,” ujarnya, Selasa (17/3/2026).
Ia menegaskan, pihaknya tidak akan tinggal diam jika polemik tersebut tidak mendapat respons dari pihak pengelola program.
“Jika tidak ada klarifikasi maupun perbaikan, kami akan membawa persoalan ini ke Badan Gizi Nasional di pusat agar dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program tersebut,” tegasnya.
Polemik ini pun memunculkan pertanyaan serius di tengah masyarakat: sejauh mana pengawasan terhadap makanan yang dibagikan kepada siswa benar-benar dilakukan secara ketat? Sebab program pemenuhan gizi seharusnya menjadi upaya menjaga kesehatan anak-anak, bukan justru menimbulkan kekhawatiran baru.
Hingga berita lanjutan ini diturunkan, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bhakti Bunda Berjaya yang berlokasi di Desa Batang-Batang Daya, Kecamatan Batang-Batang, belum memberikan penjelasan resmi terkait persoalan tersebut.
Penulis : Mat Halil/Suri Hariady
Editor : (Red)



























