Di Saat Dunia Terbiasa Membiarkan, Ia Memilih Meneladani Rasulullah: Ali Zaenal Abidin dan 2.000 Hati yang Tak Lagi Sendiri

- Publisher

Kamis, 9 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PAMEKASAN, (TrendiKabar.com) – Tidak semua orang tega melihat luka.

Sebagian memilih menutup mata.

Sebagian lagi… terbiasa mengabaikan.

Di sudut-sudut kehidupan, ada anak-anak yang tumbuh tanpa cukup pelukan.

Ada yang belajar kuat… bukan karena ingin, tapi karena keadaan memaksa.

Mereka tidak meminta dikasihani.

Mereka hanya ingin… dianggap ada.

Dan di saat banyak orang memilih berjalan menjauh, Ali Zaenal Abidin justru memilih mendekat.

Ia tidak datang membawa kata-kata besar.

Ia datang membawa kehadiran.

Pada 26 April 2026, melalui Bani Insan Peduli (BIP), ia akan memeluk 2.000 anak disabilitas dan anak berkebutuhan khusus (ABK) dalam satu gerakan kemanusiaan di Pamekasan.

Namun ini bukan awal.

Jauh sebelum itu, langkahnya telah menembus batas-batas yang sering dihindari

menjangkau anak yatim, kaum dhuafa, lansia sebatangkara, hingga masyarakat kecil yang hidup dalam diam dan keterbatasan.

Faktanya, Bani Insan Peduli bukan hanya sekali bergerak.

Mereka telah berulang kali merangkul ribuan anak yatim dalam kegiatan besar bahkan hingga 3.000 anak dalam satu momentum yang diakui secara nasional.

Mereka juga turun langsung ke jalanmenyapa tukang becak, petugas kebersihan, hingga pengemudi ojek online, memastikan bantuan benar-benar sampai ke tangan yang membutuhkan.

Bahkan, gerakan mereka tidak berhenti di satu titik menjangkau desa-desa, lansia dhuafa, penyandang disabilitas, hingga masyarakat kecil di berbagai daerah, dengan bantuan yang terus berjalan hampir setiap waktu.

Ini bukan kegiatan sesaat.

Ini adalah jalan hidup.

Ali Zaenal Abidin memahami satu hal yang sering dilupakan banyak orang

bahwa hidup bukan tentang seberapa tinggi kita berdiri,

tetapi seberapa banyak kita menunduk… untuk mengangkat orang lain.

Ia kerap menyampaikan, hidup ini sejatinya untuk menebarkan manfaat. Prinsip “Khairunnas anfa’uhum linnas” bukan sekadar ucapan tetapi napas dalam setiap langkahnya.

Dan tanpa banyak disadari, jalan yang ia tempuh adalah jalan yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW

yang tidak hanya mengajarkan kasih sayang,

tetapi turun langsung memeluk yang lemah,

menyapa yang terlupakan,

dan menguatkan yang rapuh.

Ali Zaenal Abidin tidak mengklaim diri sebagai teladan.

Ia hanya memilih… untuk berbuat.

Di balik santunan 2.000 anak disabilitas itu, ada sesuatu yang tidak terlihat

Ada hati yang lama sunyi… akhirnya merasa didengar.

Ada jiwa yang hampir putus… kembali menemukan harapan.

Ada anak-anak yang mungkin untuk pertama kalinya merasa

bahwa mereka tidak sendiri.

Malam harinya, kebersamaan berlanjut dalam kesederhanaan.

Namun mungkin, di situlah letak kemewahan yang sesungguhnya

ketika manusia saling menguatkan… tanpa syarat.

Dan mungkin… kita perlu berhenti sejenak.

Bertanya dengan jujur

Berapa banyak dari kita yang hanya melihat…

tanpa benar-benar peduli?

Sementara di tempat lain, ada seseorang yang memilih tetap berjalan

di jalan yang sepi,

di jalan yang sunyi,

di jalan yang tidak semua orang sanggup lalui.

Ia tidak sekadar menginspirasi.

Karena inspirasi bisa dilupakan.

Ia adalah tindakan.

Ia adalah kehadiran.

Ia adalah bukti… bahwa kebaikan masih hidup.

Dan di hari itu di Pamekasan

bukan hanya 2.000 anak yang menerima santunan

Tetapi 2.000 hati yang dihidupkan kembali.

Dan mungkin…

satu hati lagi yang tersentuh

adalah hati kita,

yang akhirnya tersadar…

bahwa menjadi manusia,

seharusnya saling menjaga.

Editor : (Red)

Berita Terkait

BIP Tebar Kurban hingga Pelosok, Hadirkan Kebahagiaan dan Semangat Berbagi di Hari Raya Idul Adha
Bani Insan Peduli Tebar Cahaya Kemanusiaan di Lamongan, Bantuan Rp1 Miliar dan Ambulans Hangatkan Hati Penghuni Yayasan Berkas Bersinar Abadi
Dari Kisah Abdullah bin Ummi Maktum dan Amr bin al-Jamuh, BIP Foundation Hadirkan Kesetaraan Nyata bagi 2.000 Anak Disabilitas
Mangkir Dua Kali, Eks Anggota DPRD Sumenep Diciduk Polres Pamekasan dalam Kasus Dugaan Penipuan Rp1 Miliar
Di Bawah Terik, Senyum Congli Tak Pernah Pudar: Dari Tukang Parkir hingga Penjual Nasgor di Malam Hari
“Di Tengah Fragmentasi, BIP Satukan Jurnalis dan Aktivis: Bang Ali Dorong Kepedulian Jadi Gerakan Nyata”
Disorot Soal Roti Nyaris Kedaluwarsa untuk Siswa, SPPG Yayasan Bhakti Bunda Berjaya Bungkam—Malah Gelar Bukber di Hotel Myze
Belum Usai Rekor MURI, BIP Kembali Buat Gebrakan: 6.000 Disabilitas, Ojol, Tukang Becak hingga Kaum Duafa Disantuni di Sumenep

Berita Terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 09:12 WIB

BIP Tebar Kurban hingga Pelosok, Hadirkan Kebahagiaan dan Semangat Berbagi di Hari Raya Idul Adha

Jumat, 15 Mei 2026 - 21:29 WIB

Bani Insan Peduli Tebar Cahaya Kemanusiaan di Lamongan, Bantuan Rp1 Miliar dan Ambulans Hangatkan Hati Penghuni Yayasan Berkas Bersinar Abadi

Minggu, 26 April 2026 - 17:59 WIB

Dari Kisah Abdullah bin Ummi Maktum dan Amr bin al-Jamuh, BIP Foundation Hadirkan Kesetaraan Nyata bagi 2.000 Anak Disabilitas

Minggu, 19 April 2026 - 05:18 WIB

Mangkir Dua Kali, Eks Anggota DPRD Sumenep Diciduk Polres Pamekasan dalam Kasus Dugaan Penipuan Rp1 Miliar

Kamis, 9 April 2026 - 19:12 WIB

Di Saat Dunia Terbiasa Membiarkan, Ia Memilih Meneladani Rasulullah: Ali Zaenal Abidin dan 2.000 Hati yang Tak Lagi Sendiri

Berita Terbaru

Opini

Wakil Bupati atau Pajangan Serambi?

Sabtu, 30 Mei 2026 - 18:50 WIB

Opini

Wakil Bupati atau Pajangan Serambi?

Sabtu, 30 Mei 2026 - 18:41 WIB

Opini

Dari Counter HP ke Ribuan Orang

Jumat, 29 Mei 2026 - 07:51 WIB